Waspada Mengonsumsi Makanan Hasil Rekayasa Organik Berlebihan

Raka Lestari    •    Kamis, 19 Oct 2017 15:48 WIB
kesehatan
Waspada Mengonsumsi Makanan Hasil Rekayasa Organik Berlebihan
Mengonsumsi makanan yang sudah mengalami rekayasa genetika ini memiliki dampak negatif terhadap tubuh manusia. (Foto: Neonbrand/Unsplash.com)

Metrotvnews.com, Jakarta: Makanan Genetically Modified Organism atau makanan GMO mungkin sudah banyak beredar di kalangan masyarakat luas. Makanan GMO atau makanan hasil rekayasa genetika ini bisa dibilang sudah tidak alami karena mengalami rekayasa genetik sehingga penampilannya terlihat lebih baik dari makanan organik. 

Tentunya mengonsumsi makanan yang sudah mengalami rekayasa genetika ini memiliki dampak negatif terhadap tubuh manusia. Hal ini dikarenakan makanan hasil rekayasa genetik bukanlah makanan yang alami. 

"Itu berpengaruh terhadap gen kita. Ada penelitian dimana tikus diberikan makanan hasil rekayasa genetik lalu terjadi tumor," ujar dr. Handrawan Nadesul, Health Motivator dan penulis buku pada acara "Talkshow Hospital Expo 2017" di Jakarta Convention Center, Kamis (19/10/17). 



(Baca juga: 4 Jenis Makanan Beku yang Mengandung Nutrisi)

Ia juga menganjurkan untuk sebisa mungkin mengurangi makanan hasil rekayasa genetik ini dan mencontohkan bahwa di luar negeri, makan-makanan hasil rekayasa organik ini diberi label sehingga konsumen yang ingin membelinya pun sudah tahu dan sadar akan konsekuensi yang diterima dengan membeli makanan hasil rekayasa genetika tersebut. 

Contoh buah-buahan hasil rekayasa genetika diantaranya kentang dengan ukuran besar-besar, wortel yang juga bisa direkayasa menjadi lebih besar dari bentuk normal, bahkan buah-buahan yang diklaim tanpa biji atau seedless itu juga merupakan makanan hasil rekayasa genetik. Tentunya ini tidak alami dan mengubah kodrat alami dari buah-buahan dan sayuran. 

Tentunya akan berpengaruh pada tubuh jika mengonsumsinya berlebihan karena tubuh merasa asing dengan masuknya bahan-bahan yang tidak akrab bagi tubuh. 










(TIN)