Pernapasan Lewat Hidung Memengaruhi Memori

Dhaifurrakhman Abas    •    Kamis, 22 Nov 2018 10:18 WIB
kesehatan
Pernapasan Lewat Hidung Memengaruhi Memori
Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa teknik pernapasan melalui hidung berpengaruh pada cara sesorang mengingat sesuatu. (Foto: Ben White/Unsplash.com)

Jakarta: Ketika dalam kondisi marah kita sering diminta untuk menarik napas dalam-dalam melalui hidung. Kemudian mengeluarkannya perlahan lewat mulut.

Kita percaya metode tersebut merupakan langkah awal untuk menenangkan pikiran dan mengurangi emosi. Entah berdasarkan kepercayaan yang didapatkan dari orang tua, ataupun instruktur yoga.

Padahal, tahukah Anda, hal tersebut sebetulnya hanya didasari pada mitos dan pengalaman saja. Belum ada bukti konkret yang dapat menjelaskan hubungan pernapasan dengan penenang jiwa.

Meski begitu belakangan pada Oktober, sebuah penelitian yang dituangkan ke dalam jurnal berjudul The Journal of Neuroscience mengungkapkan bahwa teknik pernapasan melalui hidung berpengaruh pada cara sesorang mengingat sesuatu.

Penelitian ini menggunakan 12 sukarelawan pria dan wanita muda yang sehat. Mereka menghirup aroma berbeda. Sebagian dari aroma itu tidak asing buat mereka, seperti jeruk serta beberapa aroma lain yang tidak umum.

Subyek penelitian lantas diminta untuk menghafal setiap aroma melalui dua kesempatan. Pertama, subyek diminta duduk diam selama satu jam segera setelah menghirup aroma melalui mulut. Sementara hidung mereka ditutup untuk mencegah pernapasan hidung.


(Sebuah penelitian yang dituangkan ke dalam jurnal berjudul The Journal of Neuroscience mengungkapkan bahwa teknik pernapasan melalui hidung berpengaruh pada cara sesorang mengingat sesuatu. Foto: Rodolfo Sanches Carvalho/Unsplash.com)

(Baca juga: Cara Ini Bisa Meningkatkan Kemampuan Memori Otak Anda)

Adapun pada subyek lainnya dilakukan dengan cara terbalik. Subyek duduk selama satu jam dengan plester di mulut mereka. Hal ini untuk mencegah pernapasan melalui mulut.

Hasilnya, penelitian itu mengungkapkan bagaimana sel syaraf neuron pada otak yang terdapat pada Bulbus Olfaktorius bereaksi ketika menghirup suatu aroma melalui hidung. Bernapas melalui hidung juga memengaruhi bagian otak hipokampus, yang berfungsi sebagai sistem pengingat dan navigasi ruang.

“Selama setiap jam, otak mereka seharusnya telah mengonsolidasikan memori dari bau di hippocampus,” kata Artin Arshamian, salah satu peneliti yang juga ahli syaraf dari the Karolinska Institute.

Penelitian tersebut juga mencoba mengomparasi apakah menarik napas melalui mulut juga berpengaruh pada sistem neuron otak. Namun ternyata pernapasan mulut tidak menghasilkan perubahan pada ingatan seseorang.

“Agaknya, pernapasan melalui mulut kurang efektif karena melewati neuronal yang hanya dilewati lewat hidung,” ungkapnya.

Meski begitu, penelitian ini belum bisa membuktikan apakah pernapasan melalui hidung berdampak pada ingatan jangka Panjang. Hasil tersebut hanya membuktikan hubungan penciuman dengan memori jangka pendek.

"Namun, saya tidak akan terkejut jika itu memiliki efek serupa pada memori dalam kehidupan sehari-hari. Mengingat fakta bahwa pernapasan telah digunakan untuk mengubah keadaan mental selama ribuan tahun,” pungkasnya.

 


(TIN)