Penyebab Orang Indonesia Kesulitan Berhenti Merokok

Sri Yanti Nainggolan    •    Jumat, 02 Sep 2016 19:29 WIB
rokok
Penyebab Orang Indonesia Kesulitan Berhenti Merokok
Penyebab Orang Indonesia Kesulitan Berhenti Merokok (Foto: listsurge)

Metrotvnews.com, Jakarta: Data dari Global Adult Tobacco Survey (GATS) pada tahun 2011 menunjukkan bahwa Indonesia merupakan negara dengan jumlah prevalensi perokok aktif tertinggi di dunia dengan jumlah 67 persen pada pria dan 2,7 persen pada wanita.

Banyak penyebab kenapa hal itu bisa terjadi. Menurut Wakil Kepala Lembaga Demografis Universitas Indonesia, Dr. Abdillah Ahsan, SE, M.Se, salah satunya karena harga rokok yang murah.

"Karena harga rokok murah. Sekitar 60 persen perokok membeli rokok yang tergolong mahal. Ini artinya harga tersebut masih terjangkau bagi mereka," ujar Dr. Abdillah Ahsan, dalam acara Peluncuran Iklan Layanan Masyarakat 'Rokok Merusak Tubuhmu' di Kementrian Kesehatan, Jakarta, Jumat (2/9/2016).

Ia menambahkan, penjualan rokok yang bisa dijual per batang ikut memberi pengaruh karena dengan begitu anak-anak masih sanggup membeli rokok.

Di Indonesia, merokok adalah suatu hal yang dianggap normal. Padahal seharusnya tidak seperti itu. Itulah salah satu penyebab utama mengapa kebiasaan merokok sulit dihentikan.

"Di sini kalau berhenti merokok malah dianggap aneh. Diperlukan upaya denormalisasi agar kebiasaan ini bisa dihentikan," katanya.

Beberapa faktor lain yang menurutnya menghambat penghentian kebiasaan merokok di masyarakat adalah masih adanya iklan rokok yang ditayangkan atau dipasang di tempat publik dan kawasan tanpa rokok yang kurang efektif.

Isu Kenaikan Harga Rokok

Peningkatan harga rokok menjadi isu hangat beberapa saat ini. Banyak faktor yang akan terkena imbasnya, termasuk pekerja di bidang tersebut.

"Penurunan produksi rokok membutuhkan waktu sekitar 20 tahun, jadi tentang tenaga kerja bisa diantisipasi nantinya," ujar Abdillah Ahsan.

Abdillah menambahkan, pajak rokok daerah yang diberikan kepada provinsi sebesar 10 persen, separuhnya bisa digunakan untuk bidang kesehatan dan sisanya untuk kegiatan yang lain.

"Yang lain itu sebaiknya untuk para petani tembakau yang kondisinya mengkhawatirkan. Dalam 10 tahun, hanya pada tahun ketiga mereka biasanya panen, yang lainnya gagal," ungkapnya.

Abdillah mengakui, para petani tak bisa berbuat banyak karena tidak memiliki modal atau keahlian untuk berpindah pekerjaan. Oleh karena itu, Abdillah menyarankan agar anggaran tersebut digunakan untuk mengadakan program pelatihan wirausaha pada petani tembakau agar bisa mempersiapkan diri bekerja di bidang lain.


(ELG)