Penelitian: Psikosis Dialami oleh Pendaki Gunung Ketinggian 7000 Mdpl

Anindya Legia Putri    •    Rabu, 27 Dec 2017 15:39 WIB
kesehatan
Penelitian: Psikosis Dialami oleh Pendaki Gunung Ketinggian 7000 Mdpl
Dalam sebuah penelitian dijelaskan bahwa psikosis mungkin terjadi pada ketinggian melebihi 22.965 kaki (7000 meter) di atas permukaan laut. (Foto: PIxabay.com)

Jakarta: Mendaki gunung dengan ketinggian di mana minimnya persedian oksigen dapat memicu respons ekstrem pada seseorang. Hal ini membuat para pendaki kerap kali berhalusinasi melihat seseorang yang kemudian menghilang, mendengar suara-suara misterius, dan hal parahnya bisa sampai hilang kendali.

Berdasarkan sebuah penelitian yang dipimpin oleh Dr Katharina Hüfner, dengan para periset dari Eurac Research dan Universitas Kedokteran Innsbruck, mempelajari laporan pendaki di ketinggian lebih dari dua mil untuk memahami apa yang terjadi pada mereka. 

Berdasarkan penelitian tersebut diketahui jika para pendaki tersebut menderita psikosis. Psikosis adalah istilah medis yang merujuk pada keadaan mental yang terganggu oleh delusi atau halusinasi.

Gejala psikosis ini meliputi halusinasi dan delusi yang memicu para pendaki menjadi bertingkah aneh untuk beberapa saat.


(Dalam sebuah penelitian dijelaskan bahwa psikosis mungkin terjadi pada ketinggian melebihi 22.965 kaki (7000 meter) di atas permukaan laut. Foto: Pixabay.com)

Delusi adalah kesalahpahaman atau pandangan yang salah terhadap suatu hal, sementara halusinasi adalah persepsi kuat atas suatu peristiwa yang dilihat atau didengar tetapi sebenarnya tidak ada. Penelitian ini pun telah dipublikasikan di jurnal Psychological Medicine.

"Gunung memang sangat indah, tapi kami tidak berharap gunung bisa membuat gila para pendaki," kata Dr Hermann Brugger, kepala Institute of Mountain Emergency Medicine di Eurac Research Bolzano, Italia.

(Baca juga: 5 Rahasia Persiapan 'Muncak' Gunung bagi Pendaki Pemula)

Seperti yang terjadi pada pendaki gunung serta ahli anestesi Dr Jeremy Windsor. Saat ia mendaki Gunung Everest pada 2008 lalu, Windsor mengalami pengalaman aneh yang biasa terjadi di gunung yang ekstrem. 

Sendirian di Himalaya di ketinggian lebih dari 5,1 mil (8,2 kilometer), Windsor bertemu dengan seorang pria bernama Jimmy, yang menemaninya sepanjang hari, mengucapkan kata-kata yang menggembirakan kepadanya dan kemudian lenyap tanpa bekas.

Sampai saat ini, dokter pada umumnya mengira psikosis adalah gejala penyakit ketinggian yang meliputi sakit kepala parah, pusing, dan gangguan keseimbangan.


(Berdasarkan sebuah penelitian yang dipimpin oleh Dr Katharina Hüfner, dengan para periset dari Eurac Research dan Universitas Kedokteran Innsbruck, mempelajari laporan pendaki di ketinggian lebih dari dua mil untuk memahami apa yang terjadi pada mereka. Foto: Pixabay.com)

Namun dalam analisis baru, Windsor dan rekan-rekannya menemukan bahwa ‘psikosis’ berbeda dengan penyakit ketinggian. Dan memiliki kondisi medisnya sendiri.

Untuk mencapai kesimpulan tersebut, para peneliti menganalisis data dari 83 cerita di dataran tinggi yang dikumpulkan dari literatur gunung Jerman. Hasilnya, mereka menemukan kalau relawan mendengar suara-suara. Namun, gejala yang terjadi ini tidak berhubungan dengan penyakit ketinggian atau penyakit jiwa yang diderita pendaki di masa lalu. 

Selain itu, dijelaskan bahwa psikosis mungkin terjadi pada ketinggian melebihi 22.965 kaki (7000 meter) di atas permukaan laut. Berdasarkan penelitian tersebut juga disampaikan bahwa kemungkinan terjadinya psikosis karena kekurangan oksigen atau tahap awal pembengkakan di area otak tertentu.









(TIN)