Kapan Penderita Skoliosis Harus Operasi?

Nia Deviyana    •    Selasa, 23 May 2017 07:00 WIB
kesehatan tulang
Kapan Penderita Skoliosis Harus Operasi?
(Foto: Medicalnewstoday)

Metrotvnews.com, Jakarta: Operasi menjadi salah satu pengobatan yang ditawarkan untuk memperbaiki kelainan struktur tulang belakang penderita skoliosis. Namun, konon operasi sangat berisiko dan mahal.

Ketua program studi ortopedi dan traumatologi FKUI Dr Ifran Saleh, SpOT(K) membenarkan jika operasi tulang belakang memang penuh risiko.

Operasi dilakukan jika perawatan skoliosis lainnya tidak berhasil. Operasi akan memperkuat tulang belakang dengan menggunakan sekrup dan tangkai baja. Beberapa risiko misalnya pasien mengalami pergeseran tangkai baja, infeksi, pembekuan darah, serta kerusakan saraf.

Meski demikian, kini sudah banyak tenaga ahli yang kompeten sehingga risiko bisa dihindari. Untuk biaya, Dr Ifran mengatakan sudah banyak Rumah Sakit yang telah bekerjasama dengan BPJS.

Kapan harus operasi?

Pasien direkomendasikan operasi apabila derajat lengkungan mencapai 40-50 derajat. Jika tidak, pasien bisa mengalami berbagai gangguan kesehatan seperti saraf kejepit, gangguan paru dan jantung akibat adanya tekanan pada organ tersebut.

Pada anak perempuan, operasi sebaiknya dilakukan jika sudah mendapatkan menstruasi.

"Sebab kalau belum (mens) nanti ada kemungkinan bengkok lagi," ujarnya dalam seminar yang diselenggarakan Indonesia Scoliosis Community di NAM Hotel, Minggu (21/5/2017).

Di bawah angka 40 derajat, beberapa metode non operasi bisa dilakukan, seperti bracing. Sayangnya, pemasangan brace tak terlalu memberi respons baik pada pasien yang masih muda.

Skoliosis atau bengkok pada tulang belakang seringkali membuat penderitanya menjadi tak percaya diri.

Skoliosis dengan derajat lengkung yang besar membuat penderitanya bungkuk karena tinggi bahu yang tidak simetris. Tak hanya itu, penderita juga berpotensi mengalami gangguan paru-paru dan jantung akibat tekanan dari tulang belakang, serta saraf terjepit.

Dr Ifran menambahkan, sangat sedikit orang yang memiliki inisiatif untuk melakukan skrining kelainan ini. Pasien seringkali diketahui menderita skoliosis secara tidak sengaja, saat melakukan pemeriksaan rutin atau rontgen paru ternyata terdapat kelainan pada kelengkungan tulang belakang.

Padahal, kata dia, skrining skoliosis sangat berguna dilakukan, terutama pada anak usia sekolah.

Penyebab skoliosis

Sebanyak 15-20 persen skoliosis disebabkan oleh kongenital (kelainan bawaan), kondisi dimana tubuh gagal dalam pembentukkan atau segmentasi tulang, atau akibat dari keduanya.

Penyebab lainnya juga bisa disebabkan oleh trauma, infeksi, atau penyakit mesenkimal. Ada juga beberapa teori yang menyebut penyebabnya adalah kelainan hormon melatonin, kelainan otot lurik, kelainan jaringan lunak, atau kelainan pada keping darah.

Secara prevalensi, perempuan lebih banyak mengidap skoliosis ketimbang laki-laki.


(DEV)