WHO: Antibiotik Mulai Tak Mempan Hadapi Beberapa Jenis Penyakit

Sri Yanti Nainggolan    •    Jumat, 22 Sep 2017 13:58 WIB
kesehatanantibiotik
WHO: Antibiotik Mulai Tak Mempan Hadapi Beberapa Jenis Penyakit
Dilansir dari Thehealthsite.com, menurut WHO, kebanyakan obat yang saat ini sedang dalam fase klinis merupakan modifikasi dari antibiotik yang sudah ada. (Foto: Drew Hays/Unsplash.com)

Metrotvnews.com, Jakarta: Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa antibiotik yang saat ini dalam pengembangan klinis tidak lagi cukup untuk melawan ancaman resistensi antimikroba yang semakin meningkat.

Dilansir dari Thehealthsite.com, menurut WHO, kebanyakan obat yang saat ini sedang dalam fase klinis merupakan modifikasi dari antibiotik yang sudah ada dan manjadi solusi jangka pendek saja. Padahal, pilihan pengobatan yang berpotensi tak banyak. 

Infeksi yang terus bertambah menimbulkan ancaman terbesar terhadap kesehatan, termasuk obat resisten tuberkulosis (TB) yang membunuh sekitar 250 ribu orang setiap tahun. 



Menurut laporan, hanya ada sedikit antibiotik oral yang tersedia dimana obat tersebut mampu mengobati infeksi di luar rumah sakit atau sumber daya yang terbatas lainnya. 

(Baca juga: Kapan Saat yang Tepat Minum Obat Antibiotik?)

"Resistensi antimikrobial adalah darurat kesehatan global yang akan membahayakan kemajuan pengobatan modern secara serius," ujar Tedros Adhanom Ghebreyesus selaku Direktur Jenderal WHO dalam sebuah pernyataan. 

"Ada kebutuhan mendesak untuk berinvestasi lebih banyak dalam penelitian dan perkembangan terkait infeksi resisten antibiotik, termasuk TB. Jika tidak, kita akan mundur kembali ke waktu dimana orang ketakutan dengan infeksi biasa dan membahayakan diri mereka dalam operasi minor," tambah Ghebreyesus.



Selain TB, WHO juga mengidentifikasi 12 kelas patogen prioritas, seperti pneumonia dan infeksi saluran kemih, yang semakin resistan terhadap antibiotik yang sudah ada dan membutuhkan pengobatan baru.

Dari 21 antibiotik dan biologikal baru dalam pengembangan klinis, hanya delapan yang dianggap WHO sebagai pengobatan inovatif yang dapat menambah nilai pada pengobatan antibiotik. 

"Peneliti dan perusahaan farmasi harus fokus pada antibiotik baru untuk melawan beberapa jenis infeksi serius yang bisa membunuh pasien dalam hitungan hari karena kita tidak memiliki garis pertahanan," pungkas Suzanne Hill, Direktur Departemen Obat-obatan Esensial di WHO.









(TIN)