Gangguan Irama Jantung Berisiko Stroke

Indriyani Astuti    •    Rabu, 09 Aug 2017 15:51 WIB
kesehatan jantung
Gangguan Irama Jantung Berisiko Stroke
(Foto: Foxnews)

Metrotvnews.com, Jakarta: Irama jantung tidak teratur, atau dalam istilah medis dikenal dengan fibrilasi atrium, mungkin belum banyak diketahui sebagian masyarakat. Karena ketidaktahuan, gejalanya seringkali diabaikan. Padahal, gangguan itu bisa memicu stroke.

Gejala fibrilasi atrium di antaranya sering berdebar-debar, mudah lelah, lemas, bahkan pingsan. Penelitian menunjukkan, penderita fibrilasi atrium lebih berisiko terkena stroke.

"Fibrilasi atrium mengakibatkan risiko stroke meningkat. Karena ritme jantung tidak teratur, kerja jantung dalam memompa darah menjadi terganggu dan tidak lancar sehingga mudah terjadi bekuan darah di jantung. Begitu bekuan terbentuk, terbawa aliran darah ke pembuluh darah otak, menyumbat di sana, terjadilah stroke," terang dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari Eka Hospital BSD, Tangerang, Banten, dr Daniel Tanubudi SpJP, FIHA, beberapa waktu lalu.

Daniel mengatakan, risiko stroke pada penderita fibrilasi atrium dapat dilihat dari sistem hitung CHA2DS2VAS Score. Sistem tersebut menghitung faktor risiko yang dimiliki seseorang untuk terserang stroke. Di antaranya gangguan pada pompa jantung (congestive), tekanan darah tinggi (hipertensi), umur (lebih dari 65 tahun), kadar gula darah tinggi (diabetes), serta riwayat menderita stroke sebelumnya.

"Semakin banyak faktor risiko tersebut ada pada diri seseorang, semakin tinggi kemungkinan orang tersebut terserang stroke."

Dia menjelaskan, terdapat beberapa gangguan irama jantung yang harus diwaspadai. Pertama ialah irama jantung yang terlalu lambat. Dampaknya, seseorang merasa cepat lelah, pusing, bahkan pingsan. "Biasanya pada penderita yang berusia 60 tahun ke atas diakibatkan karena proses degeneratif atau penuaan pada fungsi organ," terangnya.

Kedua, gangguan irama jantung yang terlalu cepat, gejala yang timbul umumnya rasa berdebar-debar. Daniel menuturkan, dalam keadaan normal, jantung berdenyut antara 60-100 detak/menit. Namun, pada orang dengan irama jantung yang terlalu cepat, jantungnya bisa berdenyut lebih dari 180-200 kali per menit.

"Gangguan irama jantung yang terlalu cepat ada beberapa penyebab. Bisa karena 'korsleting' pada sistem listrik jantung," papar Daniel. Ketiga, gangguan irama jantung yang tidak teratur. Pada kasus ini irama jantung menjadi tidak menentu.

Ragam penanganan

Untuk mengetahui secara pasti apakah seseorang mengalami gangguan irama jantung diperlukan beberapa pemeriksaan, termasuk pemeriksaan rekam jantung atau elektrokardiogram (EKG).

Adapun penanganannya, lanjut Daniel, apabila tarafnya masih ringan pasien akan diberikan obat untuk menormalkan irama jantung. Adapun untuk pasien yang memiliki faktor risiko lebih dari satu sesuai hitungan CHA2DS2VAS Score, diberi obat pengencer darah untuk mencegah stroke.

"Pada pasien dengan irama jantung yang terlalu lambat biasanya dilakukan pemasangan alat pacu jantung dan pada pasien dengan irama jantung yang terlalu cepat disarankan untuk dilakukan tindakan ablasi," pungkasnya.




(DEV)