Lawan Bakteri Superbug, Manfaat Lain dari Minyak Kayu Manis

Sri Yanti Nainggolan    •    Kamis, 19 Jul 2018 06:00 WIB
studi kesehatan
Lawan Bakteri Superbug, Manfaat Lain dari Minyak Kayu Manis
Sanjida Halim Topa, seorang dokter di Swinburne University of Technology, menemukan bahwa kandungan cinnamaldehyde dapat digunakan untuk mengembangkan alternatif terhadap antibiotik. (Foto: Tiara Leitzman/Unsplash.com)

Jakarta: Kayu manis biasanya digunakan sebagai penambah rasa dalam makanan atau kopi. Namun, tahukah Anda bahwa rempah tersebut juga bisa melawan bakteri berbahaya?

Sebuah penelitian menemukan bahwa cinnamaldehyde, komponen minyak esensial kayu manis, dapat membantu melawan superbug dengan menghambat perkembangan bahkan bakteri yang melawan antibiotik paling kuat. Superbug adalah bakteri yang resisten terhadap berbagai obat dan antibiotik. 

Sanjida Halim Topa, seorang dokter di Swinburne University of Technology, menemukan bahwa kandungan cinnamaldehyde dapat digunakan untuk mengembangkan alternatif terhadap antibiotik, mengobati bakteri super bermedia biofilm kronis.

"Meskipun banyak penelitian sebelumnya telah melaporkan aktivitas antimikroba minyak ensensial kayu manis, itu tidak banyak digunakan dalam industri farmasi," kata Topa.

Penleitian tersebut bertujuan untuk mencari aktivitas molekur dari minyak tersebut, terutama cinnamaldehyde yang berperan dalam memberi rasa pada kayu manis. 


(Sanjida Halim Topa, seorang dokter di Swinburne University of Technology, menemukan bahwa kandungan cinnamaldehyde dapat digunakan untuk mengembangkan alternatif terhadap antibiotik, mengobati bakteri super bermedia biofilm kronis. Foto: Annie Spratt/Unsplash.com)

(Baca juga: 6 Manfaat Kayu Manis yang Perlu Anda Ketahui)

Tope mengungkapkan bahwa ada kebutuhan mendesak untuk mengembangkan alternatif untuk antibiotik untuk mengobati infeksi yang diperantarai biofilm kronis, seperti yang dapat terjadi pada kateter kemih dan sendi buatan.

Daripada membunuh bakteri, Topa mencari untuk memodifikasi perilaku bakteri dengan mengganggu komunikasi bakteri untuk mencegah pembentukan biofilm.

"Kami berhipotesis bahwa menggunakan antimikroba alami, seperti minyak esensial, dapat mengganggu pembentukan biofilm. Dengan demikian kami fokus pada dampak konsentrasi yang berbeda dari cinnamaldehyde dalam tahap pengembangan biofilm yang berbeda," katanya.

Studi yang dipublikasikan di jurnal Mikrobiologi tersebut menguji pengaruh konsentrasi cinnamaldehyde yang berbeda pada biofilm yang terbentuk dari strain bakteri Pseudomonas aeruginosa yang merupakan patogen.

Hasilnya menunjukkan bahwa konsentrasi sub-letal cinnamaldehyde mengendalikan dispersi bakteri Pseudomonas aeruginosa dan perkembangan biofilm.

"Manusia memiliki sejarah panjang dalam menggunakan produk alami untuk mengobati infeksi, dan ada fokus baru pada senyawa antimikroba tersebut. Produk alami dapat menawarkan solusi yang menjanjikan untuk masalah ini," kata Topa.





(TIN)