Studi: Olahraga Kebugaran Bantu Turunkan Risiko Gangguan Jantung Akibat Depresi

Sri Yanti Nainggolan    •    Jumat, 29 Jun 2018 13:48 WIB
kesehatanstudi kesehatan
Studi: Olahraga Kebugaran Bantu Turunkan Risiko Gangguan Jantung Akibat Depresi
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal American Medical Association Psychiatry tersebut menemukan bahwa peserta dengan kebugaran tinggi 56 persen lebih kecil kemungkinannya meninggal akibat penyakit jantung. (Foto: Autumn Goodman/Unsplash.com)

Jakarta: Rajin olahraga kebugaran di usia pertengahan dapat menurunkan risiko kematian akibat penyakit jantung saat usia senja, demikian menurut sebuah penelitian. 

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal American Medical Association Psychiatry tersebut menemukan bahwa peserta dengan kebugaran tinggi 56 persen lebih kecil kemungkinannya meninggal akibat penyakit jantung setelah didiagnosis depresi.

Depresi telah dikaitkan dengan beberapa kondisi medis kronis lainnya seperti diabetes, obesitas dan penyakit ginjal kronis, tetapi menggunakan antidepresan cenderung membantu. 

Namun, menurut para peneliti untuk pasien dengan kondisi ini, perawatan yang lebih tepat adalah olahraga.

(Baca juga: Kenali Penyakit Kardiovaskular & Pencegahannya)


(Para peneliti menggunakan data Administrasi Medicare untuk menetapkan korelasi antara kebugaran peserta di usia paruh baya ke tingkat depresi dan penyakit jantung di usia yang lebih tua. Foto: Tikkho Maciel/Unsplash.com)

Para peneliti mengatakan alasan di balik ini kemungkinan berkaitan dengan efek kesehatan umum dari aktivitas fisik, termasuk fakta bahwa olahraga mengurangi peradangan yang dapat menyebabkan depresi.

"Semakin dini Anda memertahankan kebugaran, semakin besar peluang untuk mencegah depresi, yang dalam jangka panjang akan membantu menurunkan risiko penyakit jantung," kata penulis Madhukar Trivedi dari University of Texas Southwestern Medical Center di Amerika Serikat. 

Penelitian tersebut memeriksa data kebugaran kardio-pernapasan dari hampir 18.000 peserta yang rata-rata berusia 50 tahun. 

Para peneliti menggunakan data Administrasi Medicare untuk menetapkan korelasi antara kebugaran peserta di usia paruh baya ke tingkat depresi dan penyakit jantung di usia yang lebih tua.

“Ada cukup bukti untuk menunjukkan bahwa efek dari rendahnya kebugaran pada depresi dan penyakit jantung adalah nyata. Tetapi studi lebih lanjut diperlukan untuk menetapkan mekanisme di mana efek ini terjadi," kata Trivedi.





(TIN)