Gejala dan Pemicu PTSD yang Harus Diketahui

Torie Natalova    •    Senin, 02 Jul 2018 06:00 WIB
kesehatanpsikologi
Gejala dan Pemicu PTSD yang Harus Diketahui
Wanita memiliki kemungkinan dua kali lipat lebih besar dibandingkan laki-laki untuk mengembangkan kondisi PTSD. (Foto: Verena Yunita Yapi/Unsplash.com)

Jakarta: Dalam perjalanan hidup seseorang, pasti akan pernah mengalami peristiwa traumatis di suatu titik kehidupan mereka. Entah apakah mereka menjalaninya sendiri, menyaksikannya atau mendengar tentang peristiwa tersebut terjadi pada teman atau keluarga.

Hal tersebut bisa dibilang normal terutama bagi mereka yang tidak terpengaruh atau menjadi lebih waspada terhadap peristiwa tersebut. Tetapi, jika perubahan perilaku itu berlangsung lebih dari satu atau dua bulan, ini jadi pertanda gangguan stres pasca-trauma atau PTSD.

Wanita memiliki kemungkinan dua kali lipat lebih besar dibandingkan laki-laki untuk mengembangkan kondisi tersebut.

Bagaimana cara PTSD berkembang? PTSD adalah kumpulan gejala yang berkembang setelah pengalamanan yang sangat traumatis terjadi dan ini melibatkan paparan terhadap stressor atau penekan stres. 

Dalam kasus ini, mungkin ada ancaman potensi kematian, cedera serius, atau kekerasan seksual, menurut profesor pembantu klinis Gloria Kardong. Penekan stres itulah yang dikatakan membedakan PTSD antara pria dan wanita.

Meskipun penyebab psikologis dan fisiologis PTSD masih diteliti, orang yang sudah terkena trauma, orang yang sudah mengalami depresi atau kecemasan, memiliki risiko yang lebih tinggi. Hal yang sama berlaku pada mereka yang mengalami trauma yang sedang berlangsung atau sedang terluka.

Tetapi, satu faktor penting juga dapat menentukan apakah perilau pasca-traumatic seseorang berkembang menjadi PTSD. Yaitu dukungan yang mereka dapatkan sesudahnya. Jika memiliki orang yang mendukung dapat diajak berbicara tentang apa yang terjadi dan bagaimana perasaan mereka, maka PTSD dapat dihindari.

(Baca juga: Tanda-tanda Stres Sudah di Luar Kendali)


(Meskipun penyebab psikologis dan fisiologis PTSD masih diteliti, orang yang sudah terkena trauma, orang yang sudah mengalami depresi atau kecemasan, memiliki risiko yang lebih tinggi. Foto: Christian Newman/Unsplash.com)

Perasaan malu dan bersalah terkait peristiwa yang traumatis, bisa membuat korban tidak suka membicarakannya dan tidak ingin banyak orang mengetahuinya. Inilah yang bisa memicu PTSD. Adapun empat gejala PTSD seperti berikut ini.

1. Anda terus menghidupkan trauma
Ini berarti Anda dapat mengalami gangguan ingatan dan pikiran, kilas balik atau mimpi buruk yang semuanya menyebabkan Anda mengalami tekanan emosional. Jika Anda menderita PTSD, Anda akan terus menghidupkan kembali trauma Anda sebulan atau lebih setelah itu terjadi.

2. Anda menghindari peristiwa tersebut
Anda mungkin menghindari dari pengingat trauma atau yang berkaitan dengannya. Atau bisa juga melakukan hal-hal yang dapat menyibukkan Anda. Ini sering terjadi pada mereka yang tidak ingin banyak waktu untuk memikirkan hal yang terjadi.

3. Cara berpikir Anda berubah
PTSD dapat benar-benar mengacaukan pikiran Anda. Penderitanya mungkin mengembangkan perasaan menyalahkan atau tanggung jawab atas trauma dan mengembangkan pandangan pada dunia yang seakan berubah.

Karena pemikiran yang berubah, Anda mungkin mulai kehilangan kepercayaan pada orang lain yang juga dapat memengaruhi hubungan interpersonal mereka.

4. Anda selalu waspada
Anda mudah terkejut, selalu waspada, atau mudah tersinggung yang dapat menyebaban Anda sulit tidur atau konsentrasi. Orang-orang seperti ini disebut hyperarousal yang dapat membuat Anda mulai merasa tidak aman, terlebih ketika melakukan hal di mana peristiwa traumatis itu terjadi.

Hal penting yang perlu diketahui adalah bahwa semua tanda ini dapat memengaruhi setiap orang dengan cara yang berbeda.

Jadi, jika Anda menemukan diri Anda atau kerabat mengalami beberapa campuran dari gejala ini dalam kurun waktu sebulan atau lebih, ada baiknya menghubungi dokter atau terapis yang terpercaya.





(TIN)