Diskriminasi Terkait Menstruasi Masih Terjadi Hingga Kini

Sri Yanti Nainggolan    •    Sabtu, 06 Jan 2018 17:05 WIB
haid
Diskriminasi Terkait Menstruasi Masih Terjadi Hingga Kini
Diskriminasi Terkait Menstruasi Masih Terjadi hingga Kini (Foto: istock)

Jakarta: Menstruasi adalah hal alami bagi para wanita. Namun, sebuah jajak pendapat menemukan bahwa lebih dari setengah wanita mengaku merasa malu saat mengalami masa tersebut.

Sebuah survei yang dilakukan oleh perusahaan kebersihan wanita Thinx menemukan bahwa 58 persen dari partisipan merasa malu saat mentruasi.

Para peneliti melihat persepsi dari menstruasi di Amerika dengan menanyai 1.500 wanita dan 500 pria.

Mereka menemukan bahwa 42 persen dari partisipan wanita pernah dipermalukan saat menstruasi dimana kebanyakan komentar muncul dari teman pria atau anggota keluarga.

Sementara, sekitar 73 persen wanita mengaku menyembunyikan pembalut saat menuju ke kamar mandi dan 29 persen membatalkan rencana (seperti olahraga atau berenang) agar tak perlu memberitahu teman kalau mereka sedang berada dalam siklus bulanan tersebut.

Sebanyak 70 persen mengungkapkan mereka meminta seorang teman berjalan di belakang mereka untuk mengecek apakah ada bercak noda darah pada bagian belakang pakaian mereka.

Namun, rasa malu memunculkan ketakutan akan penghakiman dan kebocoran.

Satu dari tiga wanita yang disurvei bahkan mengaku tidak nyaman menggunakan kata "vagina".

Sementara, separuh dari pria mengaku setuju terkait ketidakpantasan rekan wanita yang secara terbuka mengaku sedang mengalami menstruasi dan 44 persen pernah menggoda rekan wanita yang sedang mengalami menstruasi.

Ini artinya, masih terdapat tabu sosial terkait menstruasi.

"Malu karena menstruasi adalah hal yang banyak wanit arasakan, dimulai dari menstruasi pertama. Perasaan malu dan tak membenci diri sendiri tersebut kemudian diperkuat oleh masyarakat, yang mengatakan kepada wanita bahwa tubuh mereka harus bersih dan rapi, dan jika tidak, sebaiknya itu bukan sesuatu yang secara terbuka dan jujur diskusikan. Oleh siapapun," demikian menurut juru bicara Thinx.

"Budaya tersebut perlu diubah, d imana diperlukan keterlibatan pria dan wanita di dalamnya. Hal ini bisa dimulai dengan pembicaraan yang terbuka dan jujur, kemudian dilanjutkan dengan edukasi yang membuat wanita merasa sadar dan nyaman dengan tubuh mereka."

 
(ELG)