Otonomi, Rahasia Bahagia di Tempat Kerja

Dhaifurrakhman Abas    •    Rabu, 26 Dec 2018 10:00 WIB
psikologitips & trik
Otonomi, Rahasia Bahagia di Tempat Kerja
Bagaimana cara mempertahankan kebahgiaan karyawan? Berikut tipsnya. (Foto: Crew/Unsplash.com)

Jakarta: Setiap korporasi tentu ingin seluruh karyawannya merasa bahagia dan puas dengan pekerjaan mereka. Hal itu akan berpengaruh pada kinerja karyawan menjadi lebih baik.

Sayangnya, menurut survei yang dilakukan oleh Gallup Poll, sebuah perusahaan manajemen konsultan, sebanyak 70 persen karyawan mengakui bahwa mereka tidak bekerja dengan potensi maksimal. 

Mereka merasakan keterputusan emosional dengan organisasi ataupun korporasi tempat mereka bekerja. Ini pada gilirannya menghambat produktivitas kerja karyawan.

Rasa tidak bahagia bikin karyawan bekerja bertentangan dengan perintah atasan. Juga cenderung mencuri dari perusahaan, memengaruhi secara negatif kolega lain, jarang masuk kerja dan mengusir klien atau pelanggan mereka.

Lantas, bagaimana cara mempertahankan kebahagiaan karyawan? Anda mungkin berpikir bahwa kenaikan gaji akan membantu meningkatkan moral pekerja. 

Tetapi survei yang dilansir dari Times of India mengatakan itu hanya solusi sementara. Kenaikan gaji yang konsisten justru dapat menurunkan produktivitas dan moral karyawan karena orang tersebut mungkin merasa kinerjanya tidak ada hubungannya dengan kenaikan tersebut. 

(Baca juga: Hal Ini Membuat Ibu Pekerja Bahagia)

Di sinilah temuan utama dari penelitian ini. Menurut survei tersebut, seorang karyawan benar-benar bahagia dan puas ketika dia diberikan otonomi dalam pekerjaannya sehari-hari. Salah satu karakteristik utama otonomi karyawan adalah pengambilan keputusan. 

Seorang karyawan yang otonom dapat menerima panggilannya sendiri daripada meminta seniornya setiap kali menulis surat untuk mendapatkan prosedur persetujuan melalui keputusan mereka. Selain itu, seorang karyawan harus merasa bebas untuk menyumbangkan ide dan saran dalam setiap proyek dan tugas yang diberikan korporasi.

Dampak positif pemberian otonomi bagi karyawan juga pernah diteliti oleh akademisi University of Birmingham, Business School. Daniel Wheatley, salah satu akademisi itu bilang faktor lain yang membantu membuat karyawan menjadi otonom adalah memiliki pengawasan terbatas dari manajer mereka.

"Karena kantor bukan sekolah, kan? Dan karyawan perlu memiliki kebebasan untuk memutuskan tanggung jawab mereka sendiri," ujar Wheatley, dikutip dari the journal Work and Occupations.

Kebebasan yang dimaksud juga termasuk pemberian jadwal kerja yang fleksibel, memiliki opsi untuk bekerja dari rumah dan sebagainya. 

Selain itu, Wheatley juga bilang bahwa karyawan lebih cenderung memiliki rasa memiliki atas pekerjaannya ketika diberi kekuatan untuk mengambil keputusan dan berperan aktif dalam menyumbangkan ide-ide tanpa dipandang rendah. 





(TIN)