Jangan 'Baper' kalau Dikolongin

A. Firdaus    •    Kamis, 27 Dec 2018 14:53 WIB
psikologi
Jangan Baper kalau Dikolongin
Pemain Tottenham Hotspur, Serge Aurier, berhasil mengolongi rekannya setimnya (Foto: AFP/Frederic J. BROWN)

Otak reptil itu bisa aktif digunakan kalau orang yang bersangkutan enggak bisa mengatur emosinya, atau gampang baper.

Bisa bermain futsal dengan banyak gaya gocekan itu keren ya. Sensasinya bisa lebih asyik ketimbang mencetak gol. Tapi jangan sering-sering pamer ke teman futsal yang gampang baper (emosional). Bisa-bisa persahabatan kalian rusak.

Ada nih kisah dari Jerry, teman futsal saya yang asli Brebes. Meski masih tergolong ABG, dia punya skill futsal di atas rata-rata. Kalau dia main, pasti unjuk gigi. Jerry  sering banget mengecoh lawan dengan menggulirkan bola  ke celah kaki. Nutmeg istilahnya. Anak futsal sering menyebut istilah ‘ngolongin’.

Serunya, pas dia berhadapan dengan Hasan Basri yang berumur lebih tua dari dia. Si Hasan tipikal pemain yang gampang emosi kalau lawan gocak-gocek kelamaan di depannya. 

Saat kena kecoh Jerry, ada aja aksi balas dendamnya. Enggak jarang Jerry dibuat tersungkur oleh Hasan Basri. 

Reaksi Hasan Basri itu wajar kalau menurut psikolog Efnie Indrianie. Dosen Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha Bandung ini bilang, kalau si Basri tipikal orang tempramen dan sudah punya sifat macam begitu sejak lahir. Sulit buat diubah.

Dengan sifat seperti itu dia akan nekat membalas. Sebab ini berkaitan dengan emosi negatif seseorang. Kalau dia marah, perilaku agresifnya bukan untuk sesuatu yang positif, melainkan bertujuan untuk menyakiti orang yang mempermalukannya.

"Kalau sudah emosi logikanya dia akan over adrenaline, tapi bukan berkaitan dengan semangat, melainkan agresi untuk menyerang balik," ujar Efnie saat berbincang dengan Medcom.id beberapa waktu lalu.

Efek dari kondisi kejiwaan yang habis dipermalukan bisa bermacam-macam. Seperti akan muncul perasaan depresi karena direndahkan. “Intinya ada emosi negatif dan kehilangan kendali, amarah, dan frustrasi," terangnya.

Otak Reptil
Senada dengan apa yang dibilang Efnie, ternyata Agus Setiawan yang merupakan mind coach, di Total Mind Learning Indonesia, berpendapat kalau tipikal orang yang gampang baper saat main futsal kerap menggunakan otak reptil. Maksudnya?


Otak manusia terbagi dalam tiga kategori, satu di antaranya otak reptil (Foto Ilustrasi: Jesse Orrico/Unsplash.com)

Pendapat itu Agus sadur berdasarkan teori yang dipelopori MacLean dalam bukunya Triune Brain (tiga serangkai otak) menyebut, kalau dalam otak manusia itu ada tiga kategori otak. Otak mamalia, neucortex, dan otak reptil.

Otak reptil itu bisa aktif digunakan kalau orang yang bersangkutan enggak bisa mengatur emosinya, atau gampang baper. Otak ini ada di bagian paling bawah, jika otak itu aktif, maka amigdala takkan berfungsi, karena sudah dikuasai dengan sifat emosional yang tinggi.

Amigdala yang berada di bagian otak mamalia itu punya tugas untuk menjaga sifat-sifat negatif agar tidak memengaruhi seluruh isi otak manusia. Bisa dikatakan, amigdala sebagai penyaring.

"Ketika frustrasi atau masalah melanda kita, cara yang paling gampang adalah lari. Tapi kita punya amigdala yang akan selalu memberi respons. Melawan, lari, atau menyerah," ujar Agus. 

"Amigdala (penjaga gerbang) itu ada di bagian otak mamalia kita. Dia akan memunculkan reaksi emosional yang menghalangi kita melakukan hal negatif. Garis besarnya, amigdala menjaga kita untuk tidak melakukan perubahan, seperti melawan, lari, atau menyerah," terangnya.

Biasanya kalau sedang main futsal, enggak mungkin seseorang yang dipermalukan mau lari dari lapangan. Bisa-bisa dia akan tambah di-bully. Nah yang biasanya muncul adalah respons untuk melawan. 

Nah, karena dia enggak bisa punya skill yang setara dengan lawan, mau enggak mau dia akan melakukan tindakan agresif yang cenderung negatif. Seperti menekel atau mendorong orang yang sudah mempermalukannya.

"Kalau kita sudah berpikir secara negatif atau emosional, maka yang akan aktif adalah otak reptil. Kinerjanya, otak itu juga yang akan memastikan, mau melawan, lari, atau menyerah," jelas Agus.

Lain lagi dengan tipikal orang yang bisa mengatur emosi. Dia lebih kalem kalau sudah kena gocek. Jadi amigdalanya bisa mem-filter dengan baik respons apa yang akan dia lakukan kalau ia menjadi korban gocekan.

"Intinya kedewasaan seseorang bukan dilihat dari berapa umur seseorang, melainkan bagaimana ia mengatur emosinya dalam kondisi apa pun," kata Agus.

Seperti kita melihat beberapa pesepakbola profesional level dunia. Mereka dari awal selalu dibekali bukan hanya skill, tapi juga mental dan mengatur emosi bertanding.

"Atlet enggak cuma dituntut skill, tapi utamanya adalah kecerdasan emosi. Fungsinya, pancingan emosi dari lawan lebih terkendali," Efnie menjelaskan lagi. 

Intinya apa yang dipraktikkan kalian di lapangan dengan sejuta aksi freesyle, jangan sering-sering dipraktekin saat melawan teman yang gampang baper. Toh Cuma latihan. Daripada urusan panjang, lebih baik simpan skill-nya untuk pertandingan beneran. Ya enggak?

Psikolog: Mainan Anak Tidak Harus Selalu Edukatif



(FIT)