Katarak, Penyebab Kebutaan Terbanyak di Indonesia

Putu Radar Bahurekso    •    Sabtu, 10 Oct 2015 16:02 WIB
katarak
Katarak, Penyebab Kebutaan Terbanyak di Indonesia
Bakti katarak di JEC Kedoya. (Foto:Putu Radar B.)

Metrotvnews.com, Jakarta: Katarak atau kekeruhan lensa mata merupakan salah satu penyebab kebutaan terbanyak di Indonesia maupun dunia. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (riskesdas) 2013, yang dikeluarkan oleh Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI, prevalansi katarak adalah 0,1 persen per tahun. Setiap tahun di antara 1000 orang terdapat seorang penderita katarak baru.

"Indonesia ini kan negara berkembang tapi punya jumlah penderita kebutaan yang setara dengan negara-negara miskin," ujar Andi F. Noya, Ketua Komite Mata Nasional, saat jumpa pers acara Bakti Katarak JEC di Rumah Sakit JEC Kedoya, Jakarta Barat, Sabtu (10/10/2015).

"Indonesia itu negara dengan tingkat kebutaan tertinggi di Asia Tenggara dan kedua tertinggi di dunia setelah Ethiopia," lanjutnya.

Baca juga: Katarak Bisa Disembuhkan

Penduduk Indonesia juga memiliki kecenderungan menderita katarak 15 tahun lebih cepat dibandingkan penduduk daerah sub-tropis. Ada sekitar 16-22 persen penderita katarak yang dioperasi berusia dibawah 55 tahun.

Penyakit katarak tidak bisa disembuhkan dengan menggunakan kacamata atau hanya dengan menggunakan obat. Katarak bisa disembuhkan hanya dengan cara operasi.

"Banyak penduduk Indonesia yang terkena katarak tidak mau berobat. Selain karena masalah sosial ekonomi, karena banyak orang yang takut melakukan operasi," ujar Setiyo Budi, Medical Director Rumah Sakit JEC Kedoya.

Baca juga: Gejala Mata akan Terserang Katarak

Menurutnya, perkembangan zaman juga membuat teknologi penyembuhan Katarak semakin baik, aman dan cepat. Bahkan, pasien tidak perlu menginap di rumah sakit.

"Sekarang sudah ada teknoligi FLACS atau Femtosecond Laser Cataract Surgery. Ini operasinya pakai laser enggak pake pisau lagi dan enggak akan berdarah serta tidak perlu jahitan. Tidak perlu juga sampai menginap di rumah sakit," tambah Setiyo Budi.


(LOV)