Stres Saat Ovulasi 37 Persen Turunkan Risiko Kehamilan

Sri Yanti Nainggolan    •    Jumat, 16 Sep 2016 10:32 WIB
seks dan kesehatan
Stres Saat Ovulasi 37 Persen Turunkan Risiko Kehamilan
(Foto: Health) Hindari stres saat Anda ovulasi agar persentase kehamilan lebih besar.

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebuah penelitian menemukan bahwa wanita yang mengalami stres saat masa ovulasi, 37 persen lebih kecil kemungkinannya untuk hamil. 

Angka tersebut melonjak menjadi 46 persen bagi wanita yang mengalami stres tinggi. Ini artinya stres memang menurunkan kesempatan terjadinya pembuahan. 

Ahli fertilitas secara rutin  menyarankan para wanita untuk menurunkan tingkat stres mereka saat mencoba hamil. Hingga saat ini, dalam studi baru di Annals of Epidemiology, hanya ada sedikit penelitian yang menghubungkan kedua hal tersebut dalam kehidupan nyata, dan tidak ada efek stres saat menstruasi.

Untuk menyelidiki, peneliti dari University of Louisville meminta 400 wanita yang aktif secara seksual untuk merekam tingkat stres sehari-hari mereka pada skala 1 sampai 4, kemudian mengikuti mereka selama sekitar delapan bulan atau sampai mereka hamil. Para wanita, yang semuanya usia 40 tahun atau lebih muda ini juga mencatat informasi tentang kebiasaan gaya hidup mereka, serta waktu menstruasi, berhubungan seksual, dan pengunaan kontrasepsi. 

Setelah mereka dicocokan dengan faktor-faktor lainnya seperti usia, indeks massa tubuh, alkohol dan penggunaan rokok, serta frekuensi hubungan seksual; para peneliti menemukan bahwa wanita yang mengalami stres saat masa ovulasi memiliki kemungkinan hamil yang lebih kecil. 

(Baca juga: Pentingnya USG Sebelum Usia Kehamilan 13 Minggu)

"Efek ini dianggap signifikan secara klinis, karena hasilnya terjadi penundaan selama lebih dari 3 bulan untuk pembuahan," tulis para penulis. 

Mereka menambahkan, kebiasaan merokok sangat memengaruhi ketidaksuburan. The American Society of Reproductive Medicine menyarankan, wanita di atas usia 35 tahun untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis kesuburan setelah mencoba untuk bisa hamil selama enam bulan.

Menariknya, stres yang lebih tinggi pada akhir bulan dikaitkan dengan tingkat peningkatan kesuburan. Para penulis berhipotesis, hal itu tergantung pada fluktuasi hormon alami pada tahap awal kehamilan, atau bagaimana respon wanita yang melakukan tes kehamilan di rumah dan mengharapkan hasil yang positif. 

Studi tersebut tidak bisa membuktikan adanya sebab-akibat, sehingga dibutuhkan penelitian lanjutan untuk menentukan bagaimana hormon dapat memengaruhi ovulasi. 

"Hasilnya menyiratkan, wanita yang ingin hamil dapat meningkatkan peluang untuk melakukan langkah-langkah aktif salah satunya dengan mengurangi stres seperti melakukan olahraga, mengikuti program manajemen stres, atau berbicara dengan dokter," ujar ahli epidemiologi Kira Taylor, PhD.

Namun, beberapa orang masih skeptis terhadap penelitian tersebut. "Saya harap penelitian ini menyadarkan dokter dan masyarakat, bahwa kesehatan psikologis dan kesejahteraan sama pentingnya dalam hal memberikan risiko, sebagaimana beberapa faktor lainnya yang sudah kita ketahui seperti merokok, minum alkohol, dan obesitas dalam hal kehamilan," pungkasnya. 






(TIN)