Pengobatan Surveilans Aktif Disarankan untuk Orang yang Tua

Sri Yanti Nainggolan    •    Rabu, 05 Oct 2016 09:00 WIB
kesehatan lansia
Pengobatan Surveilans Aktif Disarankan untuk Orang yang Tua
Agresivitas kanker prostat dan status kesehatan pria secara keseluruhan adalah faktor yang turut menentukan apakah pengobatan cocok digunakan. (Foto: Health)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pengobatan terbaik untuk kanker prostat hingga kini masih diperdebatkan karena dari ketiganya, yaitu surveilans aktif, operasi, atau radiasi; paling tidak penderita harus mencoba salah satu untuk melihat mana yang mempan.

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam New England Journal of Medicine kemungkinan merubah pendapat tersebut. Mereka membandingkan ketiga pengobatan tersebut pada mereka yang memiliki tingkat lebih tinggi dalam tes PSA (tes untuk melihat adanya kanker prostat). 

Sekitar 1.643 pria setuju untuk mengikuti salah satu dari ketiga pengobatan tersebut dan diikuti selama 10 tahun.

Di antara ketiga kelompok, tingkat kematian akibat kanker prostat rendah, sekitar 1 persen, dan hampir identik. Itu menunjukkan bahwa terlepas dari pilihan pengobatan, kemungkinan mereka sekarat karena kanker prostat adalah sama. 

Mengingat efek samping dan hasil samping pengobatan kanker prostat, hasil baru dapat membantu beberapa orang membuat pilihan untuk melupakan pengobatan agresif sebagai pengganti pengobatan invasif. 

"Saya harap ini membantu pasien untuk menjadi lebih baik dan tidak terburu-buru dalam memutuskan pengobatan," kata Dr Freddie Hamdy, profesor bedah dan urologi di University of Oxford dan penulis utama studi tersebut. 

Jenis pengobatan
Namun, terdapat beberapa perbedaan dalam jenis pengobatan tersebut. Kelompok surveilans aktif memiliki dua kali lebih banyak perkembangan kanker prostat, termasuk metastasis ke jaringan lain seperti tulang dan kelenjar getah bening, daripada pria yang yang menjalani operasi atau radiasi. Namun, tidak berarti risiko kematian lebih tinggi. 

Sebanyak 55 persen pria yang melihat pertumbuhan tersebut memutuskan untuk beralih ke pengobatan operasi dan radiasi, meninggalkan pengobatan surveilans aktif. 

(Baca juga: Jarang Bercinta Tingkatkan Risiko Kanker Prostat, Mitos atau Fakta?)

"Hasil ini menunjukkan bahwa surveilans aktif masih aman untuk digunakan, namun untuk pasien yang tepat," ujar Dr. David Penson, ketua bedah urologi di Vanderbilt Medical Center dan juru bicara American Urological Association.

Agresivitas kanker prostat, yang merupakan lanjutan dari penyakit ini, serta status kesehatan pria secara keseluruhan adalah faktor yang turut menentukan apakah pengobatan tersebut cocok digunakan. 

Untuk pria yang lebih tua yang mungkin tidak sehat dan sudah menderita masalah kesehatan lainnya, misalnya, temuannya harus meyakinkan mereka bahwa mereka mungkin tidak akan perlu mengambil tindakan segera jika mereka didiagnosis terkena kanker prostat. Mereka dapat memilih surveilans aktif karena mereka lebih mungkin untuk meninggal karena penyebab lain.

Tapi untuk yang lebih muda, laki-laki yang sehat didiagnosis dengan penyakit tersebut, ini bukanlah pilihan yang tepat. Hal ini dikarenakan pengobatan tersebut bisa menimbulkan penyebaran. Oleh karena itu, pengobatan operasi dan terapi hormon lebih disarankan. 

Bagaimana orang akan menafsirkan hasil ini, jelas akan tergantung pada status kesehatan masing-masing, dan toleransi mereka pada efek samping. 

Tapi temuan ini setidaknya akan memberikan informasi lebih banyak untuk membuat keputusan dalam hal pengobatan bagi mereka yang masih ragu.







(TIN)