Mengenal Apa Itu Panic Attack

Raka Lestari    •    Senin, 02 Jul 2018 09:00 WIB
kesehatanpsikologi
Mengenal Apa Itu Panic Attack
Panic attack atau serangan panik bisa terjadi tiba-tiba dan tanpa alasan yang jelas. (Foto: Hailey Reed/Unsplash.com)

Jakarta: Panic attack atau serangan panik bisa terjadi tiba-tiba dan tanpa alasan yang jelas. Dengan gejala seperti jantung berdegup kencang, paru-paru menegang, ruangan terasa seperti berputar, serangan panik dapat membuat seseorang merasa tidak nyaman. Dan hal itu tentunya bisa mengganggu aktivitas sehari-hari. 

The Anxiety and Depression Association of America mendefinisikan serangan panik atau panic attack sebagai serangan rasa takut atau ketidaknyamanan yang mendadak.

Itu bisa terjadi secara tiba-tiba dan tanpa alasan yang jelas ketika seseorang dalam keadaan tenang, atau menyerang ketika seseorang merasa cemas.

"Tubuh akan memberikan respons seolah-olah dalam bahaya, meskipun sebenarnya tidak ada ancaman," kata Todd Farchione, direktur program intensif di Boston University's Center for Anxiety & Related Disorders.

(Baca juga: Lima Cara untuk Menghentikan Serangan Panik)


(The Anxiety and Depression Association of America mendefinisikan serangan panik atau panic attack sebagai serangan rasa takut atau ketidaknyamanan yang mendadak. Foto: Courtesy of Getty Images)

Serangan panik adalah fenomena umum dan dapat terjadi dengan gangguan kecemasan, kata Farchione.

Tanpa ada gejala, penderita merasa di luar kendali dan mengalami "teror yang hampir melumpuhkan," menurut American Psychological Association. Para penderita juga merasa tidak ada cara untuk menghentikan serangan panik.

Gejala yang mungkin bisa dirasakan termasuk diantaranya adalah jantung yang berdetak kencang, kesulitan bernapas, mual, kepala terasa melayang, gemetar, dan kesemutan pada tangan atau bibir. 

Seseorang juga dapat mengalami perasaan tidak nyata, atau seperti setengah sadar, ujar Farchione.

Serangan panik umumnya berlangsung beberapa menit karena tubuh tidak dapat mempertahankan reaksi secara fisiologis maupun psikologis dalam menghadapi bahaya untuk waktu yang sangat lama, kata Farchione.

Tetapi setelah serangan panik itu hilang, penderitanya mungkin masih akan terus merasa khawatir dan masih merasakan beberapa gejala.




(TIN)