Tingkat Depresi Korban Pelecehan Seksual Sama pada Pria dan Wanita

Sri Yanti Nainggolan    •    Jumat, 14 Jul 2017 14:33 WIB
psikologi
Tingkat Depresi Korban Pelecehan Seksual Sama pada Pria dan Wanita
Serangan seksual adalah kontak seksual yang tak diinginkan, termasuk pemerkosaan, dan kejadian traumatis yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan mental. (Foto: Theodysseyonline)

Metrotvnews.com, Jakarta: Seringkali pria dianggap sebagai pelaku dalam pelecehan seksual. Namun, bagaimana bila mereka adalah korbannya? Sebuah penelitian menemukan bahwa pria merasakan trauma secara emosional dan depresi, sama layaknya seperti wanita. 

Serangan seksual adalah kontak seksual yang tak diinginkan, termasuk pemerkosaan, dan kejadian traumatis yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan mental seperti depresi, gangguan stres pasca-trauma (PTSD), ketakutan, cemas, ketergantungan alkohol, penggunaan zat terlarang, hingga percobaan bunuh diri. 



Sebuah penelitian yang dipublikasi dalam jurnal Women & Criminal Justice menantang sebuah teori sosiologikal yang menerbitkan bahwa pria cenderung merespons serangan seksual dengan kemarahan dan melakukan tindak kriminal, sementara wanita akan jatuh ke dalam depresi dan kesedihan. 

"Ketika memulasi studi, kami berpikir wanita akan mendapatkan nilai depresi yang lebih tinggi dibandingkan pria karena pemikiran kuno, dimana pria dan wanita memiliki emosi yang berbeda," tukas pemimpin studi Lisa Dario, asisten profesor di Florida Atlantic University, Amerika Serikat. 

"Namun, faktanya serangan seksual membuat kedua gender ini trauma," tambah Dario.

(Baca juga: Stres dan Trauma Sebabkan Kerusakan pada Kemampuan Mengenali Ekspresi Wajah)

Metode penelitian

Studi tersebut melibatkan sampel sejumlah 11.860 orang Amerika yang terdiri dari 5.922 pria dan 5.938 wanita yang terdapat dalam data National Violence Against Women Survey. 

Mereka menemukan bahwa korban serangan seksual memiliki nilai depresi yang lebih tinggi dibandingkan partisipan yang tidak mengalami hal serupa seumur hidup. 



Sekitar 38 persen pria dilaporkan mengalami insiden penyerangan seksual dan pemerkosaan, dimana mereka yang bekerja di bidang militer lebih rentan mengalami hal tersebut. 

Menurut para peneliti, pria mengalami tingkat depresi yang lebih besar dibandingkan wanita karena mereka tak memiliki saluran sosial yang sistem pendukung seperti pada wanita sehingga tak bisa menyelesaikan perasaan dan emosi tersebut. 

"Tidak ada ruang untuk 'seksisme' dalam penelitian penyerangan seksual (dengan mengabaikan korban laki-laki), dan kita harus memperhatikan masalah yang berdampak pada pria secara setara. Terutama jika kita tahu bahwa respons emosional negatif mereka dapat diobati," tambah Dario lagi.









(TIN)