Virus Rubella Dapat Picu Kematian Bayi dalam Kandungan

Farida Noris    •    Sabtu, 22 Jul 2017 14:54 WIB
bayikehamilan
Virus Rubella Dapat Picu Kematian Bayi dalam Kandungan
Virus Rubella Dapat Picu Kematian Bayi dalam Kandungan (Foto: gettyimages)

Metrotvnews.com, Medan: Virus Rubella atau juga dikenal sebagai campak Jerman dapat menyerang wanita hamil terutama sebelum usia kehamilan lima bulan. Rubella berpotensi tinggi untuk menyebabkan Sindrom Rubella Kongenital atau bahkan kematian bayi dalam kandungan.

"WHO memperkirakan setiap tahun terdapat sekitar 100.000 bayi di dunia yang terlahir dengan Sindrom Rubella Kongenital. Penyakit ini juga bisa menyerang remaja dan dewasa," kata Dokter RSUP H Adam Malik Medan, dr Rita Evalina Rusli MKed (Ped) SpA (K).

Dia mengatakan, Sindrom Rubella Kongenital dapat menyebabkan cacat lahir pada bayi, seperti tuli, katarak, penyakit jantung kongenital, kerusakan otak, organ hati, serta paru-paru. Diabetes tipe 1, hipotiroidisme, serta pembengkakan otak juga dapat berkembang pada anak yang terlahir.

"Di RSUP H Adam Malik Medan, tidak banyak ditemukan kasus tersebut, bahkan bisa dibilang jarang. Karena gejalanya yang tidak berat makanya enggak sampai di kirim ke Adam Malik sudah selesai di praktek dokter atau di klinik," jelasnya.

Rubella dapat menular dengan mudah. Penularan utamanya, lanjut dr Rita, dapat melalui butiran liur di udara yang dikeluarkan penderita melalui batuk atau bersin. Berbagi makanan dan minuman dalam piring atau gelas yang sama dengan penderita juga dapat menularkan Rubella.

"Gejalanya berupa ruam merah pada kulit mirip campak, tapi lebih ringan. Ada juga penderita Rubella yang tidak mengalami gejala apa pun dan tetap dapat menularkan Rubella. Penyakit ini pada umumnya membutuhkan waktu sekitar 14-21 hari sejak terjadi pajanan sampai menimbulkan gejala (masa inkubasi).

Tak hanya itu, gejala-gejala umum Rubella lainnya meliputi demam, sakit kepala, hidung tersumbat atau beringus, tidak nafsu makan, iritasi ringan pada mata, pembengkakan kelenjar limfa pada telinga dan leher. Ruam berbentuk bintik-bintik kemerahan yang awalnya muncul di wajah, lalu menyebar ke badan, tangan, dan kaki. Ruam ini umumnya berlangsung selama 1-3 hari.

"Guna memastikan diagnosis, biasanya diambil sampel air liur atau darah untuk diperiksa di laboratorium. Tes tersebut digunakan untuk mendeteksi keberadaan antibodi Rubella. Apabila terdapat antibodi IgM, berarti sedang mengidap Rubella," ungkapnya.

Pencegahan Rubella yang paling efektif, kata dr Rita, adalah melalui vaksinasi, terutama bagi wanita yang berencana untuk hamil. Sekitar 90 persen orang yang menerima vaksin ini akan terhindar dari Rubella. Sejak adanya program vaksinasi, jumlah kasus Rubella yang tercatat secara global berkurang secara signifikan.

"Rubella tidak membutuhkan penanganan medis khusus. Pengobatan dapat dilakukan di rumah dengan langkah-langkah sederhana. Seperti, banyak minum istirahat, obat penurun demam atau untuk mengurangi rasa sakit-sakit di sendi. Ini untuk meringankan gejala, namun bukan untuk mempercepat penyembuhan Rubella," bebernya.

 


(ELG)