Polusi Udara Picu Sinus Kronik

Sri Yanti Nainggolan    •    Kamis, 20 Apr 2017 18:24 WIB
kesehatan
Polusi Udara Picu Sinus Kronik
(Foto: Gismodo UK)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebuah penelitian menyebutkan bahwa penduduk di kota yang tinggi tingkat polusi udara, seperti New Delhi dan Beijing, lebih berisiko terkena penyakit sinus kronik.

Studi yang dipublikasi dalam American Journal of Respiratory Cell and Molecular Biology tersebut membuktikan bahwa bernapas pada udara kotor menyebabkan gangguan pada saluran sinus dan nasal tikus secara langsung.

"Di Amerika, ada aturan untuk memerhatikan polusi udara. Namun di beberapa daerah seperti New Delhi, Kairo, dan Beijing; dimana mereka masih menggunakan kayu bakar sehingga polusi udara cenderung lebih banyak, studi kami melihat risiko mereka yerkan masaah sinus kronik lebih besar," ujar Murray Ramanathan, profesor di Johns Hopkins University School of Medicine.

Para peneliti telah lama mengetahui bahwa asap, abu, dan partikel lain dari cerobong asap industri dapat memperburuk kualitas udara dan meningkatkan gejala asma. Namun, tak banyak bukti yang menunjukkan bahwa kerusakan tersebut dapat berakibat ke sistem pernapasan bagian atas.

Hasilnya, partikel aerolisis di beberapa daerah dengen polusi udara tinggi seperti New Delhi, Kairo, dan Beijing lebih tinggi 30-60 persen.

Oleh karena itu, untuk membuktikannya, mereka melakukan uji coba pada tikus dimana 19 ekor dibiarkan bernapas pada udara yang tesaring, 19 lainnya pada udara berpolusi selama enam jam per hari, selama lima hari untuk 16 minggu.

Para peneliti menggunakan  air untuk membersihkan sinus dan melihat apakah ada paradangan atau sel lain dalam cairan pembersih dengan menggunakan mikroskop. Mereka menemukan banyak sel darah putih yang mengalami inflamasi, termasuk makrofag, neutrofil dan eosinofil, pada tikus yang menghirup udara yang tercemar dibandingkan dengan yang menghirup udara yang disaring.

Ketika para peneliti memeriksa lapisan sel di sepanjang saliran hidung dan sinus, mereka menemukan lapisan permukaan (epitel) 30 hingga 40 persen lebih tebal pada tikus yang menghirup udara berpolusi.

Menurut Ramanathan, epitel yang lebih tebal adalah tanda peradangan pada manusia dan hewan lainnya.

"Kami telah mengindentifikasikan banyak bukti bahwa bernapas di udara berpolusi secara langsung dapat menyebabkan kerusakan pada integritas saluran sinus dan nasal pada tikus," kata Ramanathan.

Ia menambahkan, diperlukan penghalang untuk udara berpolusi agar sel-sel jaringan tetap terlindung dan terhindari dari iritasi atau infeksi sumber lain seperti serbuk sari atau kuman.


(DEV)