Tanggapan Ahli Gizi soal Pola Diet CICO

Anggi Tondi Martaon    •    Kamis, 23 Nov 2017 16:46 WIB
diet
Tanggapan Ahli Gizi soal Pola Diet CICO
Ilustrasi. Shutterstock

Jakarta: Calories In, Calories Out (CICO) merupakan pola diet baru yang sedang digandrungi. Pola ini membebaskan orang mengonsumsi makanan apa saja, tapi mengurangi asupan kalori. Meski diklaim terbukti ampuh menurunkan berat badan, pola ini banyak ditentang ahli gizi.

"Menjadi sehat bukan hanya tentang berat badan sendirian. Anda harus mempertimbangkan seluruh paket," kata Direktur Program dan Asisten Profesor Klinis Gizi di University of Texas Southwestern Medical CenterLona Sandon seperti dikutip dari WebMD.

Sandon mengakui, pola CICO mampu mengurangi berat badan. Tapi ada sisi buruk yang membayangi orang yang menerapkan pola diet ini, yaitu kekurangan gizi atau bahkan malnutrisi.

"Anda mungkin tidak dapat menyediakan semua nutrisi yang dibutuhkan tubuh Anda jika Anda tidak memperhatikan jenis-jenis makanan yang Anda tempatkan pada tubuh Anda. Ini bisa berarti osteoporosis, peningkatan risiko kanker, penyakit jantung, dan sebagainya," tegas dia.

Pendapat senada disampaikan Samantha Heller, ahli gizi di New York University Medical Center. Heller mengatakan, sebagian besar orang tentunya sangat terobsesi agar bisa memiliki berat badan ideal dan melakukan berbagai cara mendapatkannya, bahkan tidak memperdulikan aspek kesehatan.

"Jauh lebih penting untuk makan makanan yang sehat seperti brokoli, edamame, kemiri, buah, pasta, dan minyak zaitun," kata Heller.

Sedangkan Connie Diekman, ahli gizi dari Universitas Washington di St. Louis mengatakan, menurunkan berat badan dengan cara yang tidak sehat bukan ide bagus.
 
Menurutnya, mengelola kalori untuk mendapatkan berat badan yang diinginkan memang sangat penting. Namun, jika hal itu diraih dengan cara mengurangi nutrisi yang dibutuhkan tubuh, akan berdampak buruk terhadap kesehatan tulang, ketajaman, dan lain sebagainya.

"Sebagai ahli diet terdaftar, saya terus-menerus mengingatkan klien saya agar tidak selalu mementingkan tentang skala. Ini adalah tentang distribusi lemak sehat, otot massa, dan tubuh," tutur Diekman.


(TRK)