Mengapa Penderita Psikosis Harus Banyak Gerak?

Sri Yanti Nainggolan    •    Minggu, 28 Aug 2016 09:09 WIB
kesehatan
Mengapa Penderita Psikosis Harus Banyak Gerak?
(Foto: Huffington Post)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebuah studi menemukan, bahwa kehidupan tak banyak gerak dapat meningkatkan risiko kegilaan dan berujung pada kematian dini.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ketidakaktifan fisik adalah pengebab kematian keempat terbesar yang bisa dihindari, sama seperti merokok.

Pera peneliti menemukan bahwa mereka yang menderita psikosis, gangguan mental dimana merasa tidak terkoneksi dengan dunia nyata, selama lebih dari 15 tahun dapat menyebabkan penyakit jantung.

WHO merekomendasikan pada orang dewasa berusia 18-64 tahun untuk berolahraga sedang 150 menit dalam seminggu, seperti berjalan, bersepeda, melakukan bersih-bersih rumah atau olahraga biasa.

Para peneliti juga memberikan pandangan penting dimana psikosis bisa dihindari dengan terus melakukan aktivitas fisik.

Kesulitan mobilitas, rasa sakit, depresi, dan pelemahan kognitif adalah penyebab penurunan aktivitas fisik pada penderita psikosis.

"Mengerti dan menanggulangi dasar ini adalah startegi penting untuk membantu orang psikosis  menjadi lebih aktif dan mengurangi risiko penyakit jantung mereka," ujar Brendon Stubbs dari King's College London.

Studi ini menganalisa lebih dari 200 ribu orang berusia 18-64 tahun dari 50 negara untuk melihat apakah penderita psikosis memenuhi anjuran WHO. Mereka dibagi dalam tiga kelompok: orang psikosis, orang dengan gejala psikosis namun tak terdiagnosis, dan yang tidak menderita psikosis selama 12 bulan.

Secara keseluruhan, penderita psikosis 36 persen lebih jarang melakukan anjuran tersebut dibandingkan kelompok ketiga.

Ketika para peneliti hanya melihat pada kaum pria, penderita psikosis dua kali lipat cenderung tidak melakukan anjuran tersebut dibandingkan kelompok normal.

"Belum jelas mengapa pria psikosis lebih menunjukkan ketidakaktifan, mungkin karena gaya hidup yang berubah seiring dengan penyakit atau manajemen tersebut, seperti gejala negatif, obat penenang, atau pengakuan dari rumah sakit," jelas Fiona Gaughran dar King's College London.

Studi yang dipublikasikan dalam Schizophrenia Bulletin tersebut tentunya membantu para penderita sikosis untuk lebih aktif secara fisik untuk meningkatkan kesehatan mereka.
 


(DEV)