Mengenal Orthorexia, Obsesi 'Makan Sehat' yang tak Sehat

   •    Jumat, 24 Nov 2017 13:26 WIB
gangguan makan
Mengenal Orthorexia, Obsesi Makan Sehat yang tak Sehat
Ilustrasi. (Foto: Thinkstock)

Jakarta: Apakah Anda penggemar makanan sehat? Jika ya tentu sangat baik. Tetapi hati-hati ketertarikan pada makanan sehat bisa berubah menjadi gangguan makan.

Seorang Profesor Psikologi Lintas Budaya di Universitas Toulouse-Jean Jaures Patrick Denoux menyebutnya sebagai orthorexia atau gangguan makan yang membuat penderitanya hanya terobsesi pada makanan sehat.

Melansir AFP, penderita orthorexia sering menunjukkan tanda atau gejala gangguan kecemasan yang perilakunya hampir mirip dengan penderita anorexia atau gangguan makan lainnya.

Seseorang dengan orthorexia cenderung terobsesi mempertahankan makanan yang sempurna yang paling mendekati bentuk, rasa, dan warnanya dengan alam. Umumnya makanan yang dipilih adalah sayur-sayuran mentah dan beragam jenis buah saja.

Patrick mengatakan orang dengan orthorexia 'terpenjara' oleh serangkaian aturan yang mereka tetapkan sendiri. Aturan ini cenderung mengisolasi individu dari aktivitas makan pada umumnya dan dalam kasus yang ekstrim dapat membahayakan kesehatan.

Seorang Ahli Gizi di Paris Sophie Ortega bahkan menyebut pernah menangani pasien yang buta akibat kekurangan vitamin B12 yang dibutuhkan tubuh untuk memproduksi sel darah merah. Vitamin B12 senrdiri tidak bisa diproduksi oleh tubuh melainkan berasal dari makanan seperti telur, produk susu, daging, ikan, atau dari suplemen.

Istilah orthorexia sendiri ditemukan pada 1990-an oleh praktisi pengobatan alternatif di San Francisco Steven Bratman. Orthorexia bukan keinginan untuk makan sehat tetapi merupakan obsesi patologis yang membuat penderitanya mengalami gangguan psikologis.

Orthorexia sendiri merupakan gangguan makan yang sangat serius terutama jika disertai dengan gangguan kejiwaan atau kecanduan, penurunan berat badan yang signifikan atau ketidakseimbangan diet.

Sama halnya dengan gangguan makan lain seperti anorexia atau bulimia, orthorexia adalah gangguan medis yang dapat mengakibatkan komplikasi serius termasuk kematian.

Melansir Timberline Knolls penderita orthorexia cenderung menghindari makanan yang mengandung pewarna, pemanis, dan bahan pengawet, terkena pestisida, mengandung lemak, gula, atau garam, produk hewani dan susu, dan bahan makanan lain yang dianggap tidak sehat.

Umumnya gejala yang ditunjukkan mudah terlihat, seperti menghindari makanan dengan alasan alergi namun tanpa keterangan medis, mengonsumsi suplemen, obat herbal atau probiotik secara sering, selera dan pemilihan makanan yang drastis yang pada akhirnya hanya mengonsumsi kurang dari 10 jenis makanan saja, dan perhatian yang tak masuk akal terhadap teknik pengolahan makanan terutama proses memasak dan sterilisasi perkakas masak.

Obsesi terhadap makanan sehat ternyata dapat mengganggu kehidupan sosial penderitanya, mengganggu aktivitas sehari-hari bahkan berbahaya secara fisik. Sebab salah satu efek dari orthorexia adalah dorongan superioritas bahwa makan makanan sehat adalah segalanya yang bisa menyinggung orang lain.

Hal ini dapat menimbulkan ketegangan pada hubungan keluarga, teman, dan orang-orang di sekitarnya lantaran hubungan sosial dianggap tidak lebih penting dari menjaga pola diet.

Orthorexia juga dapat menyebabkan kalori yang masuk dalam tubuh tidak maksimal karena makanan yang dikonsumsi tidak memadai. Penderita orthorexia mungkin akan kehilangan berat badan yang hampir sama dengan penderita anorexia atau bulimia.

Pembatasan makanan terlalu parah dapat menyebabkan seseorang kekurangan gizi. Dalam beberapa kasus, penderita yang tidak ditangani atau dibiarkan 'candu' akan obsesi makanan sehat dapat menyebabkan malnutrisi, penurunan berat badan drastis, komplikasi jantung, hingga kematian.


(MEL)