Sulitnya Mendeteksi Penyakit Multiple Sclerosis

Puput Mutiara    •    Minggu, 13 Nov 2016 16:59 WIB
kesehatan
Sulitnya Mendeteksi Penyakit Multiple Sclerosis
(Foto: Shutterstock)

Metrotvnews.com, Jakarta: Multiple Sclerosis (MS) termasuk penyakit yang sulit dideteksi. Bahkan hingga kini seluruh dunia masih melakukan penelitian untuk mencari penyebab pasti penyakit yang menyerang sistem saraf otak tersebut.

Dr. dr. Yusak MT Siahaan, SpS mengatakan bahwa penderita MS mengalami kerusakan myelin atau pelindung saraf yang berfungsi seperti pelindung pada kabel listrik dan memudahkan saraf mengirim impulsnya dengan cepat.

"Kerusakan pada myelin berakibat multi efek. Tapi karena gejalanya yang tidak sama, sulit sekali mendeteksi dan menanganinya," ujarnya dalam Seminar Medis Informasi Terkini dan Tatalaksana Penanganan MS di Siloam Hospitals Lippo Village, Tangerang, Banten, belum lama ini.

Catatan Siloam Hospitals Lippo Village, tim spesialis saraf telah menangani puluhan penderita MS dan angkanya cenderung meningkat. Masyarakat umumnya masih sangat awam dan tidak tahu mengenai penyakit MS serta gejalanya.

Bukan hanya masyarakat umum, tenaga medis pun banyak yang belum mengenal dengan baik gejala dini MS. Akibat ketidaktahuan itu, penanganannya menjadi lambat hingga berujung pada proses penyembuhan yang rumit.

Bahkan, banyak tenaga medis maupun khalayak umum yang belum mengenal dengan benar bagaimana gejala dini MS. Ketidak tahuan ini mengakibatkan lambatnya penanganan dan rumitnya proses penyembuhan.

"Kita harapkan tenaga medis dan ahli semakin banyak yang mengetahui hal itu. Salah satunya dengan banyak membaca dan mencari tahu," jelas dr. Jeffry Oeswadi, MARS, wakil Chief Executive Officer, Siloam Hospitals Lippo Village.

Pada kesempatan yang sama, Theophilia Edwinda Prasasti, penderita MS mengungkapkan pengalaman pribadinya mengalami penyakit tersebut sejak tahun 2011 ke dalam sebuah buku yang berjudul "Menyibak Seribu Wajah Multiple Sclerosis." Tak hanya Winda--begitu ia disapa--yang menggarap buku tersebut, tetapi juga penderita MS lainnya.

Buku terbitan Siloam Hospitals Lippo Village itu diharapkan mampu membantu masyarakat, termasuk tenaga medis lebih mengetahui gejala serta penanganan MS.

Jenis Multiple Sclerosis

Penyakit saraf ini memiliki gejala yang general di mana orang-orang kebanyakan mengindikasikannya sebagai penyakit lain.

Dijelaskan dr Riwanti Estiasari SpS, staf pengajar Departemen Neurologi FKUI RSCM, ada beberapa tipe MS dan bagaimana cara untuk mengurangi gejalanya.

MS terbagi menjadi tiga bagian bila disesuaikan dengan gejala kelelahan, gangguan keseimbangan dan berjalan, nyeri tubuh, gangguan berkemih, pandangan ganda, kelemahan, sampai kelumpuhan.

1. Relapsing-Remitting

Ini adalah fase di mana gejala MS terkadang timbul, terkadang tidak. Penderita bisa mengalami gejala MS sewaktu-waktu, namun juga tidak kambuh sama sekali dalam jangka waktu yang tak jelas. Tidak ada perubahan setiap kali penyakit ini kambuh sehingga sulit untuk mendiagnosis penyakit ini.

2. Secondary-Progressive

Sama seperti tipe Relapsing-Remitting, MS tipe ini bersifat kambuhanan. Namun perbedaannya, semakin lama gejala yang muncul kian parah.

3. Primary-Progressive

Pada tipe ini, penderita MS akan berkesinambungan mengalami gejalanya. Sekali penderita merasakannya, maka keadaannya akan semakin memburuk tanpa ada jeda.


Terapi Multiple Sclerosis

Penyakit ini belum ada obatnya, namun dapat ditangani dengan terapi yang dibagi menjadi dua bagian, yaitu terapi relaps dan terapi jangka panjang.

Terapi relaps adalah terapi yang hanya bisa diberikan saat pasien mengalami relaps. Jenis obat yang diberikan adalah Methyprednisolon yang dikonsumsi selama 5-7 hari.

Terapi ini berguna untuk mempercepat fase relaps dan menghambat kerusakan saraf saat badan melemah.

Terapi jangka panjang, dilakukan agar fase remit/normal semakin panjang. Selain menghambat progresifitas perusakan saraf, terapi ini juga bertujuan memperpendek waktu relaps, yang tak jauh berbeda dengan terapi reaps.

Namun, pada terapi ini, terdapat modifikasi sistem imun dalam tubuh yang biasa disebut Disease Modyfying Therapy. Pengobatan ini berusaha mengurangi penghancuran sistem imun dengan menggantinya.




(DEV)