Mengenal Demensia Lebih Jauh

   •    Selasa, 26 Sep 2017 12:15 WIB
kesehatandemensia
Mengenal Demensia Lebih Jauh
Demensia, gangguan pada otak yang menyebabkan penurunan daya ingat hingga kemampuan mental, merupakan salah satu krisis global kesehatan. (Foto: Courtesy of Kqed.org)

Metrotvnews.com, Jakarta: Data terbaru Alzheimer’s Disease International (ADI) mengungkapan saat ini sekitar 50 juta orang hidup dengan demensia di seluruh dunia, dan angka ini diperkirakan mencapai 132 juta orang pada 2050 jika tidak ada penerapan strategi penanggulangan risiko yang efektif. Untuk itu, diperlukan kesadaran global dan dukungan publik untuk memahami penyakit demensia.

Di Indonesia sendiri masih banyak stigma dan kesalahan informasi seputar penyakit demensia. Untuk itu, sangat penting bagi masyarakat untuk sadar dan mengenali gejala demensia agar memahami dampaknya dan tahu apa yang harus dilakukan saat menghadapi orang dengan penyakit tersebut. 

Seperti penjelasan dalam rilis "Setiap Tiga Detik, Satu Orang di Dunia Mengalami Demensia" dari Alzheimer's Indonesia yang diterima oleh Metrotvnews.com, baru 30 negara yang mengembangkan rencana penanggulangan risiko demensia, dan Indonesia menjadi salah satu negara panutan di Asia Pasifik.



Mengenal Demensia
Demensia, gangguan pada otak yang menyebabkan penurunan daya ingat hingga kemampuan mental, merupakan salah satu krisis global kesehatan dan sosial yang signifikan di abad ke-21. Paola Barbarino, Chief Executive Officer ADI, menjelaskan, diagnosis demensia sering kali terlambat dilakukan. 

"Penelitian ADI mengungkapkan saat ini tanpa disadari setiap tiga detik terdapat satu orang terkena Alzheimer karena rendahnya pemahaman orang tentang penyakit demensia. Untuk itu, saat ini dibutuhkan kesadaran global yang situasinya mendesak," tulis rilis lagi.

(Baca juga: Jangan Panik Menghadapi Penyakit Pikun)

Ia menjelaskan, World Health Organization (WHO) telah mengadopsi “Global Plan of Action on The Public Health Response to Dementia 2017-2025”, yaitu sebuah rencana global yang mendorong pemerintah untuk meningkatkan kesadaran, deteksi dini, dan diagnosis demensia.
 
“Namun, baru sekitar 30 dari 194 negara anggota WHO yang telah mengembangkan rencana penanggulangan risiko demensia. Pemerintah setiap negara harus bertindak sekarang juga untuk menerapkan rencana dan kebijakan untuk mengurangi epidemi global secara serius,” katanya.



Peran Indonesia 
Eksekutif Direktur Alzheimer’s Indonesia, Sakurayuki, mengapresiasi pemerintah Indonesia yang telah meluncurkan Rencana Aksi Nasional (RAN) Demensia pada Maret 2016 lalu. Langkah pemerintah Indonesia ini telah diapresiasi oleh ADI sebagai salah satu negara yang aktif dalam meningkatkan kesadaran penyakit demensia.
 
“Indonesia telah menjadi role model untuk kampanye peningkatan kesadaran demensia di Asia Pasifik, berkat kolaborasi dengan semua pihak, baik itu pemerintah pusat dan daerah, perusahaan swasta maupun publik, yang bersama-sama untuk tidak maklum dengan pikun,” ujar Sakurayuki.
 
Paola menambahkan masih banyak stigma dan kesalahan informasi seputar penyakit demensia. Untuk itu, sangat penting bagi masyarakat untuk sadar dan mengenali gejala demensia agar memahami dampaknya dan tahu apa yang harus dilakukan saat menghadapi orang dengan penyakit tersebut.
 
Potensi kerugian ekonomi dari penyakit demensia diprediksi mencapai Rp30 triliun pada 2050 mendatang. Hal ini timbul akibat hilangnya penghasilan bagi pasien demensia dan biaya yang dikeluarkan untuk merawat serta membeli obat-obatan.
 
“Penelitian mengenai penyakit demensia juga membutuhkan investasi yang besar namun harus menjadi prioritas untuk memberikan dukungan bagi mereka yang hidup dengan demensia, dan mereka yang akan terpapar penyakit ini dalam beberapa dekade ke depan,” kata Paola.
 








(TIN)