Depresi Semasa Remaja Picu Kekerasan di Kemudian Hari

Sri Yanti Nainggolan    •    Jumat, 04 Aug 2017 16:37 WIB
depresi
Depresi Semasa Remaja Picu Kekerasan di Kemudian Hari
Depresi Semasa Remaja Picu Kekerasan di Kemudian Hari

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebuah penelitian menemukan bahwa depresi saat masa remaja meningkatkan risiko kekerasan dan diperlukan deteksi dini untuk mencegah hal tersebut.

Penelitian tersebut meneliti hubungan longitudinal antara depresi dan kekerasan dari tiga sampel representatif di Belanda, Inggris, dan Finlandia.

Para peneliti menggunakan pengukuran depresi, termasuk laporan pribadi dan diagnosa klinis, dan pengukuran berbeda dari kekerasan termasuk laporan informasi kekerasan dan penyebab resmi pada kekerasan kriminal.

Penelitian yang dipimpin oleh Professor Seena Fazel, dari Forensic Psychiatry Group di University of Oxford, Inggris tersebut menemukan terdapat peningkatan pada tahap sedang pada risiko kekerasan dalam depresi.

Hasilnya, sebanyak 7,1 persen orang Finlandia dengan depresi dihukum dengan satu atau dua kasus kekerasan kriminal dibandingkan dengan 3,6 persen populasi umum yang mengalami depresi.

Selain itu, studi tersebut juga menunjukkan adanya pola konsisten dari risiko peningkatan relatif pada tindak kekerasan selanjutnya.

Pada sampel di Belanda dan Inggris, terdapat peningkatan gejala depresi yang berhubungan dengan risiko kekerasan di kemudian hari. Sementara, pada sampel Finlandia, diagnosa pada orang depresi yang melakukan kekerasan meningkat dua kali lipat dibandingkan mereka yang tak depresi.

Penelitian tersebut menggarisbawahi keperluan untuk melakukan deteksi dini pada remaja dan dewasa muda.

"Kita tahu bahwa angka depresi remaja yang tinggi dalam penahanan remaja dan fasilitas pemasyarakatan, yaitu 11 persen pada anak laki-laki dan 29 persen pada anak perempuan," tukas Dr. Rongqin Yu, pemimpin studi dari Forensic Psychiatry Group di University of Oxford, Inggris.

Ia menambahkan, masih belum ada hubungan yang jelas antara kekerasan dan depresi. Namun, penelitian tersebut melihat adanya pola konsisten pada perilaku kekerasan ke depannya pada penderita depresi.

"Depresi dan kekeraaan pada masa remaja dan dewasa muda bisa dicegah. Penelitian kemi mengindikasikan pentingnya deteksi dini dan pengobatan untuk depresi," tambahnya.

 
(ELG)