Metro Plus

Marah Ternyata Bukan Sifat Bawaan

   •    Jumat, 26 May 2017 13:53 WIB
psikologikesehatan mental
Marah Ternyata Bukan Sifat Bawaan
Ilustrasi. (Foto: Mental Healthy)

Metrotvnews.com, Jakarta: Tahukah Anda bahwa kemarahan yang ditunjukkan seseorang terhadap suatu keadaan tertentu bukanlah sifat bawaan?

Coach Erbe Sentanu menyebut perilaku marah merupakan suatu fenomena yang dipelajari oleh seseorang dari lingkungan sekitar saat menghadapi suatu keadaan.

"Marah itu bukan sifat kita. Sifat kita itu ramah. Jadi kalau ada orang marah, dia lupa pada sifat asalnya. Bisa jadi karena salah gaul, salah makan, salah mikir, kemudian dia tidak memikirkan apa yang menjadi karakternya," ujar Erbe Sentanu, dalam Metro News, Jumat 26 Mei 2017.

Datangnya bulan suci Ramadan, kata Erbe, seharusnya bisa dimanfaatkan sebagai momen untuk menahan hawa nafsu. Kemampuan untuk menahan hawa nafsu bisa mengembalikan sifat keramahan seseorang baik secara individual maupun sosial.

"Akan ketemu lagi fitrah kita sebagai manusia yang ramah, bukan manusia yang suka marah-marah," katanya.

Erbe Sentanu mengatakan sifat marah merupakan fenomena yang bisa dipelajari. Artinya, baik mereka yang berkepribadian extrovert maupun introvert mampu mempelajari sifat marah meskipun dengan cara yang berbeda.

Perilaku marah bisa dipelajari sejak usia dini. Bagaimana melihat orang di sekitar bereaksi terhadap sesuatu yang memicu kemarahan yang kemudian diteruskan melalui tayangan-tayangan dalam media. Sifat ini kemudian menjadi kebiasaan yang dibudayakan.

"Marah itu emosi, elektromagnetik motion. Marah itu bentuknya listrik yang erratic, yang tidak mengalir dengan baik. Ada listrik yang bergerak tidak sesuai atau terlalu kencang, itulah marah," kata Erbe.

Dalam kasus mereka yang extrovert, kata Erbe, marah diwujudkan dalam perkataan maupun perbuatan secara langsung. Tetapi untuk mereka yang introvert biasanya akan mengalami 'kebakaran' dalam diri lantaran menahan hawa nafsu. Jika kemudian keluar, kemarahan mereka yang introvert kadang bisa menyebabkan penyakit dan perilaku sosial yang tidak baik.

"Makanya di kota besar ini harus ada pengertian. Mulai dari lingkungan, rumah, dan sebagainya. Karena kota yang besar harus ditata dengan baik, kalau tidak akan terlaly banyak ketidak cocokan dengan yang kita mau dan dampaknya kita menganggap sesuatu itu dengan kemarahan," jelasnya.




(MEL)