Benarkah Tingkat Kepandaian Berbanding Terbalik dengan Sifat Kepemimpinan?

Sri Yanti Nainggolan    •    Selasa, 19 Jun 2018 15:07 WIB
Riset dan Penelitian
Benarkah Tingkat Kepandaian Berbanding Terbalik dengan Sifat Kepemimpinan?
Faktor yang paling nyata dalam efektivitas seorang manajer adalah kecerdasan dan kepribadian. (Foto: Thought Catalog/Unsplash.com)

Jakarta: Kepandaian tidak selalu bisa selaras dengan kepemimpinan, demikian menurut sebuah studi. 

Studi yang dilakukan oleh University of Lausanne tersebut menunjukkan bahwa kepandaian yang tinggi membuat seseorang bisa mejadi pemimpin yang lebih baik, namun pada tingkat tertentu. Faktanya, orang terpintar justru bukanlah pemimpin yang baik. 

Penelitian yang dipublikasi dalam Journal of Applied Psychology tersebut merekrut 379 pemimpin level sedang yang bekerja di perusahaan swasta di 30 negara di Eropa, dengan berbagai bidang seperti perbankan, telekomunikasi, perhotelan dan ritel.

Rata-rata partisipan berusia 38 tahun dan 27 persen diantaranya wanita. Mereka diminta mengisi kuesioner kepribadian dan tes kepandaian dari Wonderlic Personnel Test. Rata-rata IQ partisipan adalah 111, di atas rata-rata populasi yaitu 100. 

Peneliti kemudian berbicara kepada delapan rekan atau bawahan dari masing-masing pemimpin, yang diminta untuk menilai para partisipan di Multifactor Leadership Questionnaire. Ini adalah tes yang digunakan untuk menentukan sejauh mana seseorang menunjukkan berbagai gaya kepemimpinan.

Mereka menemukan bahwa secara keseluruhan, wanita adalah pemimpin yang lebih baik daripada pria, dan pemimpin yang lebih tua sedikit lebih baik daripada yang lebih muda.


(Kepandaian tidak selalu bisa selaras dengan kepemimpinan, demikian menurut sebuah studi. Foto: Getty Images/Courtesy of Independent.co.uk)

(Baca juga: Kebiasaan Ini Dilakukan Orang dengan Kecerdasan Emosional yang Tinggi)

Namun faktor yang paling nyata dalam efektivitas seorang manajer adalah kecerdasan dan kepribadian. Memperkuat temuan penelitian sebelumnya, para peneliti menemukan korelasi positif antara kecerdasan dan kemampuan kepemimpinan. 

Namun, korelasi tersebut mulai berbalik pada mereka yang memiliki IQ di atas 120. Peneliti menemukan bahwa pemimpin yang IQ-nya di atas 120 mendapat nilai lebih rendah untuk kepemimpinan transformasional dan instrumental daripada partisipan yang kurang cerdas.

Bahkan, pada partisipan dengan IQ 128 terlihat bahwa hubungan antara kecerdasan tinggi dan kepemimpinan yang kurang efektif menjadi lebih jelas dan signifikan.

Bukan berarti para pemimpin yang sangat cerdas menggunakan teknik yang buruk, melainkan bahwa mereka lebih berfokus pada kemampuan otak. 

Para peneliti tidak dapat memastikan mengapa orang-orang yang paling pintar adalah pemimpin yang lebih buruk daripada rekan mereka yang kurang cerdas, tetapi mereka menyarankan bahwa kemungkinan penyebabnya adalah penggunaan bahasa yang rumit, kurang terampil dalam menyederhanakan tugas, dan lebih perhatian pada hal yang sulit atau menantang.

Para peneliti juga tidak dapat menentukan IQ ideal untuk seorang pemimpin karena itu mungkin bergantung pada IQ para bawahan.




(TIN)