Diet Tinggi Protein Tingkatkan Risiko Gagal Jantung pada Perempuan Pascamenopause

Nia Deviyana    •    Selasa, 15 Nov 2016 11:01 WIB
diet
Diet Tinggi Protein Tingkatkan Risiko Gagal Jantung pada Perempuan Pascamenopause
Gagal jantung sangat lazim terjadi, terutama pada perempuan pascamenopause. Oleh sebab itu, pemahaman terkait asupan gizi sangat diperlukan. (Foto: Grist.files.wordpress)

Metrotvnews.com, Jakarta: Kebanyakan penelitian menunjukkan, diet tinggi protein banyak memberi manfaat bagi kesehatan. Diet ini juga dapat meningkatkan metabolisme sehingga bagus bagi mereka yang ingin menurunkan berat badan.

Namun, diet ini tidak memberi manfaat seperti yang disebutkan di atas apabila dilakukan perempuan berusia tua, malahan memberi dampak buruk bagi kesehatan.

Penelitian terbaru menemukan, perempuan usia tua yang mengadopsi diet ini berisiko mengalami gagal jantung, terutama jika sumber protein berasal dari daging.

Gagal jantung terjadi ketika organ tersebut tak mampu lagi memompa darah yang mengandung oksigen ke seluruh tubuh.

Berdasarkan data Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sekitar 5,7 juta orang dewasa di AS mengalami gagal jantung. Pada 2009, gagal jantung menyumbang 1 dari 9 kematian di negara tersebut.

Selama ini, diet tinggi lemak, kolesterol, dan sodium diklaim sebagai diet terburuk yang menyebabkan gagal jantung dan penyakit kardiovaskular lainnya. Namun, diet tinggi protein nyatanya tak selalu baik untuk kesehatan.

(Baca juga: Diet tak Harus Menyiksa Diri Sendiri)

Para peneliti menyimpulkan hal ini setelah menganalisis data dari 103.877 perempuan usia 50-79 tahun. Partisipan diminta mengisi kuesioner makanan apa saya yang mereka konsumsi selama periode 1993-1998.

Para peneliti melihat total asupan protein harian partisipan, serta jumlah total protein harian yang dikonsumsi dari daging dan sayuran.

Hasilnya, sebanyak 1.711 perempuan memiliki risiko gagal jantung. Risiko lebih tinggi ditemukan pada mereka yang lebih banyak mendapatkan protein dari daging. Hasilnya sama bahkan ketika peneliti memasukan unsur ras, usia, tingkat pendidikan, dan riwayat penyakit yang dimiliki partisipan.

"Gagal jantung sangat lazim terjadi, terutama pada perempuan pascamenopause. Oleh sebab itu, pemahaman terkait asupan gizi sangat diperlukan," ujar Dr Mohamad Firas Barbour dari Brown University Memorial Hospital of Rhode Island, seperti dilansir Medicalnewstoday.

Temuan ini dipresentasikan di American Heart Association Scientific Sessions 2016 yang diselenggarakan di New Orleans, Los Angeles.







(TIN)