Survei: Makin Dewasa, Kulit Putih Makin Kurang Penting bagi Perempuan Indonesia

Yatin Suleha    •    Selasa, 30 Oct 2018 20:15 WIB
kecantikan
Survei: Makin Dewasa, Kulit Putih Makin Kurang Penting bagi Perempuan Indonesia
Survei ZAP Beauty Index 2018 mengatakan saat ini cantik tak hanya diukur dari penampilan fisik saja. Ada hal lainnya yang membuat perempuan Indonesia merasa cantik. (Foto: Trung Thanh/Unsplash.com)

Jakarta: Wajah cantik dengan kulit putih yang dahulu menjadi satu-satunya acuan cantik bagi perempuan Indonesia, kini telah bergeser. Saat ini cantik tak hanya diukur dari penampilan fisik saja. Itulah yang diyakini oleh lebih dari setengah perempuan Indonesia dalam survei ZAP Beauty Index 2018.

Survei yang dilakukan oleh ZAP Clinic pada 17.889 perempuan di seluruh Indonesia ini menemukan bahwa 50,7 persen perempuan telah merasa percaya diri dengan kondisi fisik mereka.

Rasa percaya diri tersebut meningkat seiring dengan bertambahnya usia dan kedewasaan. Sebanyak 24,6 persen responden di bawah 18 tahun masih berpendapat bahwa kulit putih lebih penting daripada bahagia. Namun, responden yang berusia 24 tahun ke atas memperlihatkan bahwa mereka mampu menerima kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya.

Perempuan Indonesia tidak lagi terdorong menjadi cantik karena pengaruh pasangan, lingkungan pergaulan maupun media sosial. Temuan ZAP Beauty Index 2018 menunjukkan bahwa dorongan untuk merawat penampilan fisik 82,2 persen datang dari diri sendiri.

Hal ini memperlihatkan bahwa perempuan Indonesia telah memiliki kesadaran bahwa perasaan cantik dimulai dari dan untuk diri sendiri. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa mayoritas perempuan Indonesia telah memiliki tingkat self-love yang tinggi.

Self-love yang merupakan salah satu bentuk penerimaan dan apresiasi diri ini dapat diekspresikan dengan bermacam cara. Salah satunya adalah dengan merawat diri dengan baik.

Head of Medical and Training dari ZAP Clinic, dr. Dara Ayuningtyas, menganggap wajar temuan ini, “Perempuan dengan tingkat percaya diri dan self-love yang tinggi akan lebih menghargai dan mencintai diri sendiri."

"Sebagai efeknya, mereka akan menjadi lebih aware terhadap kebutuhan tubuh sehingga sering berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi, tidur teratur, merawat kebersihan serta kecantikan diri,” ujarnya.

Temuan ini juga menunjukkan bahwa para perempuan memiliki sejumlah definisi baru terhadap kata cantik. Indikator kecantikan bukan lagi semata-mata kulit putih, dandanan stylish atau tubuh langsing.

"Sebanyak 67,5 persen responden percaya bahwa kecerdasan merupakan daya tarik terbesar dari seorang perempuan. Selain itu, 76,8 persen responden juga menuturkan bahwa kesehatan adalah hal yang paling berharga," tulis survei dalam ZAP Beauty Index 2018.

(Baca juga: Alasan Mengapa Wanita Mengejar Kecantikan)


(Usia di bawah 18 tahun yang termasuk dalam kategori remaja maka cara pandang terhadap segala sesuatu sedang dalam proses pembentukan dan belumlah stabil. Foto: Greg Raines/Unsplash.com)

Pandangan tentang kecantikan yang berbeda

Menurut psikolog anak, remaja, dan keluarga Efnie Indrianie, M.Psi dari Universitas Kristen Maranatha Bandung, Jawa Barat adanya dua perbedaan pandangan ini dianggap wajar.

"Usia di bawah 18 tahun termasuk dalam kategori remaja. Hal yang perlu diketahui adalah bahwa pada remaja sering disebut juga dengan usia 'peer group'. Oleh karena itu penilaian dari teman sebaya merupakan hal yang sangat penting," papar Efnie.

Ia juga menambahkan bahwa usia di bawah 18 tahun yang termasuk dalam kategori remaja maka cara pandang terhadap segala sesuatu sedang dalam proses pembentukan dan belumlah stabil.

"Hal yang sering terlihat adalah bahwa remaja belum punya prinsip yang jelas sehingga cara pandang mereka cenderung berubah-ubah."

"Oleh karena itu, dengan adanya pandangan umum masyarakat Asia seperti Indonesia bahwa kulit putih menjadi standar kecantikan, remaja yang masih labil tersebut akan langsung mengadopsi hal tersebut menjadi cara pandang mereka terhadap kecantikan."

"Hal ini yang membuat seorang remaja terkadang mengabaikan perasaan pribadinya dan lebih memerhatikan pendapat umum saja," tutur Efnie.


(Usia 24 sudah memasuki dewasa awal. Di usia ini menurut psikolog Efnie tidak akan langsung mudah dipengaruhi, namun berpikir kritis terhadap segala sesuatu sudah diterapkan. Foto: Jessica Wilson/Unsplash.com)

Usia 24 yang memasuki dewasa awal

Efnie memaparkan adanya perbedaan pandangan antara usia 18 dengan 24 dalam memandang kecantikan karena di usia 24 tahun ke atas, sudah masuk dalam kategori dewasa awal.

Kategori ini memiliki ciri khas perkembangan psikologis yaitu menjaring relasi sosial, menyelesaikan studi, dan membangun karier.

"Karena mereka sudah mampu membuat prinsip pribadi. Hal ini karena fungsi kerja 'frontal lobe' otaknya sudah lebih maksimal. Oleh karena itu seseorang yang dewasa sudah lebih bisa mengolah informasi dari lingkungan dengan lebih baik," ucap psikolog yang ramah ini.

Ia menjelaskan mereka tidak akan langsung mudah dipengaruhi, namun berpikir kritis terhadap segala sesuatu sudah diterapkan.

"Sehingga terhadap kondisi fisik pun pada seorang dewasa yang selalu mengolah proses berpikirnya dengan baik, mereka akan bisa menerima ciri khas yang dimiliki oleh fisiknya," jelas Efnie lagi.

Fun Fact
Milestone psikologis usia 18 dan 24


18 tahun:

1. Fisik: Pertumbuhan fisik sudah sempurna dan sudah melewati transisi pubertas.

2. Kognitif: Kemampuan berpikir terus meningkat dan sudah mulai berpikir tentang makna kehidupan.

3. Sosial-emosional: Mulai intens pada aktivitas yang ia senangi, mulai ingin bebas dari orang tua dan membentuk kemandirian, popularitas san diperhatikan rekan-rekan sebaya sebagai hal yang penting baginya.


(Ciri khas perkembangan psikologis pada masa dewasa awal adalah menjaring relasi sosial, menyelesaikan studi, dan membangun karier. Foto: Trung Thanh/Unsplash.com)

24 tahun:

1. Fisik: Perkembangan fisik sudah mencapai puncaknya.

2. Kognitif: Sudah mulai membuat perencanaan masa depan yang ditandai dengan kemampuan berpikir antisipatif dan abstrak.

3. Sosial-emosional: Pengenalan akan diri semakin kuat, perkembangan emosi sudah mulai pada tahap yang stabil, membina relasi yang serius dengan lawan jenis, dan membangun “networking” yang ada kaitannya dengan karier.




(TIN)