Alasan Mengapa Tidur Siang Menyenangkan

Sri Yanti Nainggolan    •    Senin, 15 Oct 2018 08:19 WIB
tidur
Alasan Mengapa Tidur Siang Menyenangkan
Sebuah penelitian mencoba mencari tahu mengapa tidur menjadi kegiatan favorit bagi sebagian besar orang dewasa tersebut. (Foto: Kinga Cichewicz/Unsplash.com)

Jakarta: Banyak orang senang tidur siang. Sebuah penelitian mencoba mencari tahu mengapa itu menjadi kegiatan favorit bagi sebagian besar orang dewasa tersebut. 

Sebuah studi pada tikus yang dilakukan oleh University of Tsukuba di Jepang menemukan bahwa mutasi gen tunggal meningkatkan kebutuhan tidur pada tikus. 

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences tersebut memelajari mekanisme psikologis yang mengatur tidur. Artinya, alasan mengapa pola tidur tiap orang tak sama masih menjadi misteri hingga kini.  

Studi tersebut melanjutkan penelitian sebelumnya ke dalam mutasi protein yang disebut SIK3 dan memeriksa efek tersebut pada kebiasaan tidur tikus.

Selain mencatat berapa lama tikus tidur dan berapa lama mereka terjaga, para peneliti melihat ke dalam aktivitas otak tikus selama periode mimpi dan tidur tanpa mimpi, serta tingkat kewaspadaan selama periode terjaga.

Mereka menemukan bahwa dengan mutasi asam amino 551 di SIK3 membutuhkan lebih banyak tidur dan tidur lebih lama, sesuatu yang tercermin dalam aktivitas gelombang otak mereka.

“Penemuan ini sangat menarik karena mutasi ini memengaruhi periode gerakan mata mata cepat karena kurang tidur, sebagian besar tidur yang tidak bermimpi, sementara gerakan mata saat tidur tak berubah,” kata peneliti Masashi Yanagisawa.

(Baca juga: Enam Trik agar Lebih Cepat Tidur)

"Ini menunjukkan bahwa SIK3 terlibat dalam mekanisme pengaturan terkait tidur yang sangat spesifik."

Penulis utama Takoto Honda menambahkan bahwa fitur-fitur asam amino khusus tersebut dalam protein ini mirip di seluruh grup dasar hewan, yang berarti bahwa temuan tersebut relevan dengan manusia dan dapat menguntungkan penelitian yang sedang berlangsung ke gangguan tidur manusia.

"Sebagai contoh, dalam kondisi idiopatik hypersomnia, pasien mengalami kebutuhan yang kuat untuk tidur dan mengantuk di siang hari, seperti tikus dalam penelitian kami. Pekerjaan kami dapat membantu menjelaskan mengapa," katanya.

Ini mungkin menyiratkan bahwa orang yang perlu tidur lebih banyak, sesuatu yang dapat mereka atasi dengan tidur siang, memiliki versi mutasi dari protein yang sama yang diperiksa dalam penelitian.

Namun, mengingat bahwa penelitian dilakukan pada tikus dan bukan manusia, tidak ada cara untuk memastikannya.

Meskipun demikian, temuan ini dapat menjadi terobosan, mengingat bahwa di Amerika Serikat menemukan bahwa satu dari tiga orang dewasa tidak cukup tidur, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit yang ditetapkannya sebagai tujuh jam semalam.





(TIN)