Terapi HIV/AIDS Antisipasi Risiko Alergi terhadap Obat ARV

Media Indonesia    •    Kamis, 24 Nov 2016 12:35 WIB
aids
Terapi HIV/AIDS Antisipasi Risiko Alergi terhadap Obat ARV
(Foto: clearlysurely)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pasien HIV/AIDS membutuhkan terapi obat antiretroviral (ARV) untuk menekan perkembangan HIV di tubuh. Sayangnya, obat ARV kerap menimbulkan alergi.

Karena itu, deteksi dini faktor risiko alergi obat sebelum pemberian ARV kepada penderita HIV sangat penting untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian pasien HIV akibat alergi ARV.

"Pasien HIV/AIDS membutuhkan terapi ARV sepanjang hidupnya. Namun, pada terapi HIV dengan obat ARV, problem utama yang dihadapi ialah reaksi alergi," kata dokter spesialis kulit dan kelamin dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM), Angela Satiti Retno Pudjiati, saat menempuh ujian terbuka program doktoral di UGM, kemarin.

Disertasinya berjudul Hubungan Polimorfisme Gen HLA dengan Alergi Obat Nevirapine pada Penderita HIV/AIDS di Indonesia.

Angela menuturkan reaksi alergi terhadap obat ARV 100 kali lebih sering dijumpai pada pasien HIV/AIDS daripada di populasi umum.

Obat ARV yang paling sering menyebabkan reaksi alergi adalah jenis nevirapine.

"Bentuk alerginya bervariasi, dari yang ringan seperti eksantema kulit (rash) hingga yang berat berupa stevens johnson syndrome dan nekro-lisis epidermal toksik. Sering juga melibatkan organ eks-trakutan seperti hepar, ginjal, dan sumsung tulang yang menyebabkan kematian sehingga sering kali obat harus dihentikan," tuturnya.

Beberapa faktor dapat memengaruhi timbulnya alergi itu. Salah satunya ialah gen human leukocyte antigen (HLA).

"Polimorfisme gen HLA di antara pasien akan memengaruhi perbedaan kerentan-an seseorang untuk mengalami alergi ARV. Dengan demikian, deteksi dini faktor risiko alergi obat sebelum pemberian ARV kepada penderita HIV sangat penting untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian pasien HIV akibat alergi obat ARV."

Angela berharap hasil penelitiannya dapat membantu tenaga medis dalam merencanakan pemberian terapi ARV kepada pasien HIV/AIDS. Risiko timbulnya alergi dapat diantisipasi sejak awal sebelum terapi ARV diberikan.

"Dengan demikian, hal itu mampu meningkatkan kelangsungan hidup pada penderita HIV/AIDS," pungkasnya.


(DEV)