Cemas Berlebihan, Normal atau Tidak?

Nia Deviyana    •    Jumat, 21 Oct 2016 18:44 WIB
psikologikamus kesehatan
Cemas Berlebihan, Normal atau Tidak?
Anxienty disorder terjadi karena genetik dan faktor lingkungan. (Foto: Wisegeek)

Metrotvnews.com, Jakarta: Setiap manusia punya rasa cemas dan itu wajar. Namun, adakah rasa cemas yang tidak wajar?

Seperti yang dialami Ratna. Perempuan 19 tahun ini merasa ada yang aneh pada kesehatannya. Sejak memutuskan pindah dari rumah ke kost--agar lebih hemat waktu menuju kampus-- ia selalu merasakan ketakutan.

Jantungnya berdebar kencang, yang disertai munculnya keringat dingin. Gejalanya mirip dengan sakit jantung karena Ratna juga merasakan sakit di dada sebelah kiri. Anehnya, semua gejala itu muncul jika sudah masuk tengah malam dan terasa sunyi di kamarnya.

Alhasil, Ratna jadi susah tidur akibat selalu didera perasaan takut dan cemas.

Pernah suatu malam ia merasa tak kuat dan memutuskan memeriksakan diri ke dokter. Karena merasa sakit di dada sebelah kiri, dokter pun melakukan EKG. Hasilnya, jantung Ratna tak bermasalah, hanya asam lambungnya saja yang naik, yang membuat dadanya di sebelah kiri sakit.

Meski sudah cukup tenang karena tak ada masalah serius pada kondisi kesehatannya, Ratna masih penasaran kenapa dia selalu merasa takut setiap kali sendirian pada tengah malam.

Apakah yang diderita Ratna bisa digolongkan anxienty disorder?

Psikolog Jovita Maria Ferliana, memberi paparan terkait anxienty disorder atau cemas secara berlebihan. Ini kondisi yang wajar, apalagi jika berlangsung lebih dari 3 bulan.

(Baca juga: Pentingnya Terapi Psikologis pada Penderita Bipolar)

Gangguan ini dibagi menjadi lima kategori, yaitu:

1. Serangan panik
Didefinisikan sebagai perasaan terteror secara tiba-tiba. Misalnya, seperti yang terjadi pada Ratna. Karena takut sendiri, maka serangan panik datang, yang membuat dia merasakan kecemasan.

2. Fobia
Fobia merupakan rasa takut terhadap sesuatu tanpa alasan yang jelas. Misalnya, takut pada hewan tertentu.

3. Fobia sosial
Orang yang mengalami fobia sosial biasanya akan menarik diri jika bertemu jenis orang atau kelompok sosial tertentu. Mereka takut dihakimi, atau diejek.

4. Obsesif-Compulsive Disorder (OCD)
Adalah perasaan cemas akibat pikiran-pikiran tertentu. Akibatnya, ada perilaku yang ditimbulkan akibat pemikiran tersebut.

Jovita mencontohkan seseorang yang sangat takut pada kuman. Karena itu, ia selalu mencuci tangannya setiap kali menyentuh barang yang dianggap mengandung kuman.

5. Post Traumatic Stress Disorder (PTSD)
Kecemasan yang disebabkan karena trauma. Misal, seseorang pernah mengalami pelecehan seksual oleh orang yang berkumis, yang kemudian membuat seseorang itu menjadi anti terhadap orang yang berkumis.

"Ada kasus dimana seseorang melihat peristiwa kecelakaan yang cukup tragis. Sampai sekarang dia takut setiap lihat warna merah karena jadi langsung teringat sama darah (kecelakaan)."

Seseorang dikatakan mengidap anxienty disorder jika ditandai pikiran negatif, ada perubahan kondisi fisik dan perilaku.

Pada kasus Ratna, misalnya, jelas ada pikiran negatif. Dia merasa cemas dan takut jika merasa sendiri. Kecemasannya ditandai dengan perubahan kondisi fisik, seperti keringat dingin, jantung berdebar, dan naiknya asam lambung. "Pada tingkat parah, mungkin bisa pingsan," kata Jovita.


Terapi Anxienty Disorder
Tingkat bahaya pada anxienty disorder bergantung pada berapa lama gangguan itu terjadi, dan berapa lama tak ditangani ahli.

Anxienty disorder terjadi karena genetik dan faktor lingkungan. Pada genetik, artinya ada ketidakseimbangan cairan otak tertentu di dalam otak.

Faktor lingkungan juga memengaruhi. "Di sosial media sekarang kan banyak posting yang aneh-aneh. Orang yang enggak punya gen anxienty saja bisa jadi cemas, apalagi yang ada genetik."

Pengobatan yang diberikan pada penderita anxienty disorder adalah terapi kombinasi, dengan antidepresan untuk mengontrol cairan dalam otak, dan psikoterapi untuk mengontrol perilaku.

Penderita juga disarankan melakukan terapi terhadap diri sendiri untuk mendukung pengobatan, yakni dengan mengubah pola pikir terhadap sesuatu yang berpotensi menyebabkan kecemasan dan ketakutan. Atau dengan mengubah perilaku sehingga pola pikir ikut berubah.

"Istilahnya, harus menghadapi rasa takut itu. Penderita anxienty kebanyakan menghindar, bukan menghadapi."

Dalam melakukan sesi terapi, penderita sebaiknya mendapat dukungan dari keluarga dan teman dekat.

"Kita (psikolog) biasanya akan kasih pekerjaan rumah (PR). Misal pada penderita PTSD yang takut pada orang berkumis. Kita kasih (PR) seminggu ini harus berani menemui 2 orang berkumis. Kita juga akan kontak sahabat terdekatnya, untuk membantu penderita dalam bersosialisasi dengan target. Kalau berhasil, tiap minggu intensitasnya ditingkatkan," paparnya.

Saat serangan cemas datang, sebaiknya tarik napas dalam-dalam agar tubuh merasa rileks.

Diet Makanan Kurangi Kecemasan?
Pernah ada penelitian, mengurangi kafein, cokelat, dan makanan manis lainnya dapat mengurangi kecemasan.

Menurut Jovita, hal itu memang masuk akal. Pasalnya, kafein dapat meningkatkan detak jantung. Sementara cokelat, membuat seseorang menjadi aktif.

Dengan mengonsumsi makanan di atas, dapat memicu atau nemperparah rasa cemas yang dialami penderita anxienty disorder.







(TIN)