Beri Komentar di Media Sosial Bisa Tingkatkan Kepuasan dalam Hubungan

Sri Yanti Nainggolan    •    Jumat, 09 Sep 2016 14:26 WIB
psikologi
Beri Komentar di Media Sosial Bisa Tingkatkan Kepuasan dalam Hubungan
(Foto: Themarysue) Peran media sosial mampu merubah perasaan seseorang.

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebuah studi baru menunjukkan bahwa, menerima pesan atau komentar di media sosial dari orang yang dicintai, dapat memberi dampak signifikan dan kepuasan pada perasaan sejahtera seseorang. Perasaan tersebut setara dengan menikah dan memiliki bayi. 

Namun bila komentar tersebut menunjukkan rasa tertentu, Anda bisa memulainya dengan menekan tombol jempol atau hati yang merupakan tanda Anda menyukai posting orang tersebut.

"Kita tak membahas sesuatu yang bersifat cukup intensif. Cukup berikan komentar satu atau dua kalimat. Hal yang penting dari ini adalah, seseorang seperti teman dekat menyisihkan waktu untuk melakukannya," ujar Moira Burke, seorang ilmuwan penelitian di Facebook dalam siaran pers.

(Baca juga: Peran Media Sosial Kian Penting dalam Demokrasi)

Komunikasi Melalui Media Sosial
Komunikasi sederhana ini dapat mengingatkan si penerima komentar, bahwa sebuah hubungan berarti dalam hidup mereka.  Studi yang dipublikasikan dalam Journal of Computer-Mediated Communication tersebut menganalisa perlakuan dan tanggapan dari 1,910 pengguna Facebook di 91 negara selama beberapa bulan melalui survei. 

Dengan mengandalkan data dari Facebook, para peneliti dapat membedakan jenis aktivitas seperti, pemberian komentar, tanda suka, dan 'poke' yang pasif atau jenis interaksi dari teman dekat dan kenalan.

Para peneliti menyimpulkan bahwa, menerima 60 atau lebih komentar dari orang-orang terdekat dalam kurun waktu 30 hari dapat memperbaiki kualitas hidup. Contohnya seperti kebahagiaan, kesepian, depresi, dan kepuasan hidup. Meskipun kepuasan ini sederhana, namun mereka mengungkapkan hal tersebut dapat disetarakan dengan peristiwa-peristiwa besar dalam hidup seperti menikah dan memiliki anak. 

Lebih dalam, 60 komentar tersebut dalam bentuk tulisan. Jika hanya sekedar tanda suka atau berita sosial biasa yang tidak berasal dari orang terdekat, efek kebahagiaan yang dirasakan tidak akan sama. Selain itu, komentar-komentar tersebut juga tak terlalu berarti bila diberikan oleh orang-orang yang tak dekat.

Penemuan ini terbilang kontradiktif dengan penelitian-penelitian sebelumnya dimana media sosial hanya memberi dampak kesepian dan depresi. Namun, menurut peneliti, studi ini tak bisa menentukan mana yang lebih dulu muncul. Media sosial yang memengaruhi kebahagiaan, atau orang-orang tak bahagia yang lebih memilih untuk menggunkaan media sosial.

"Ini menunjukkan bahwa orang-orang yang merasa sedih kemungkinan lebih banyak menggunakan media sosial, namun mereka melakukannya karena mereka tahu bahwa hal itu membuat mereka merasa lebih baik, " ujar Burke. 







(TIN)