Ciri Seseorang Memiliki Jiwa yang Sehat

Sri Yanti Nainggolan    •    Kamis, 06 Oct 2016 11:02 WIB
Ciri Seseorang Memiliki Jiwa yang Sehat
(Foto: Huffington Post)

Metrotvnews.com, Jakarta: Dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat. Lantas, bagaimana ciri jiwa yang sehat dan kuat?

Menurut UU Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan RI, sehat jiwa adalah kondisi seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuannya sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya.

Beberapa ciri juga mewakili jiwa yang sehat dan kuat.

Pertama, seseorang yang memiliki perasaan sehat, bahagia dan merasa nyaman terhadap dirinya. Dengan demikian, ia mampu mengatasi amarah, iri hati, rasa cemas, rendah diri, takut, kecewa, dan mampu menilai diri sendiri dengan sepatutnya.

Kedua, seseorang dapat menerima orang lain apa adanya, mempunyai sikap positif terhadap diri dan orang lain serta merasa nyaman berhubungan dengan orang lain, sehingga mampu menerima dan mencintai, serta menggunakan akalnya dengan baik.

Sehat jiwa juga dapat dilihat dari kemampuan menyadari kompetensi yang dimiliki, mampu menghadapi tantangan, menerima tanggung jawab, mengambil keputusan, mempunyai tujuan hidup nyata, dan merancang masa depannya.

Ketika seseorang tidak mencakup beberapa poin di atas, ada kemungkian ia mengalami gangguan kejiwaan.

Gangguan jiwa adalah sekumpulan gejala atau pola perilaku yang memengaruhi dan menyebabkan penurunan kondisi psikologis seseorang.

Ada berbagai tipe gangguan jiwa, yaitu ringan, sedang, dan berat.

"Pada gangguan ringan atau sedang, masih bisa dilakukan intervensi atau belum membutuhkan bantuan profesional. Namun, untuk tahap berat perlu bantuan psikiater," dr. Eka Viora, SpKJ, Ketua Pengurus Pusat Persatuan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (PP-PDSKJI), dalam edukasi kesehatan di Jakarta, Rabu (5/10/2016).

Gangguan jiwa berat ditandai dengan terganggunya kemampuan menilai realitas, penderitaan, dan adanya gejala klinis berupa halusinasi, gangguan proses, dan pola pikir (bicara tidak nyambung, waham, gangguan emosi, bertingkah laku aneh (agresif, menarik diri dan sebagainya).

Ada berbagai penyebab dari gangguan jiwa, yaitu berasal dari faktor lingkungan maupun genetik. Faktor lingkungan, mencakup kekerasan, baik fisik maupun seksual, bullying, kesulitan ekonomi, dan sebagainya.

Gangguan jiwa dapat terjadi pada segala usia, mulai dari  anak-anak, ibu hamil, hingga usia lanjut.

Keluarga seharusnya menjadi garda terdepan dalam melindungi keluarganya dari masalah kesehatan jiwa. Namun, hal ini masih menemui kendala lantaran adanya ketidakpahaman, kelelahan dalam menghadapi, kurang peduli, serta ketersediaan dan akses pelayanan kesehatan jiwa yang sulit dijangkau.

Berdasarkan data World Federation on Mental Health tahun 2016, satu dari empat orang dewasa akan mengalami masalah kesehatan jiwa pada satu titik dalam hidupnya, dan setiap 40 detik di suatu tempat di dunia ada seseorang yang meninggal karena bunuh diri akibat depresi.

(DEV)