Studi: Diselingkuhi Membuat Kesehatan Mental Menurun

Sri Yanti Nainggolan    •    Rabu, 07 Jun 2017 12:38 WIB
studi kesehatan
Studi: Diselingkuhi Membuat Kesehatan Mental Menurun
Dikhianati tak hanya memberi konsekuensi kesehatan mental, namun juga perilaku berisiko terutama pada mereka yang menyalahkan diri sendiri. (Foto: Pinterest/Starpix.tistory.com)

Metrotvnews.com, Jakarta: Diselingkuhi membuat seseorang merasa kesal, marah, dan bingung. Tak jarang muncul pertanyaan: "apa yang salah dengan saya?" Hal tersebut ternyata dapat memunculkan gangguan secara fisik dan mental pada mereka yang dikhianati. 

Sebuah studi yang dilakukan oleh University of Nevada, Reno menyurvei 232 mahasiswa yang telah diselingkuhi dalam tiga bulan terakhir dengan rata-rata hubungan 1,7 tahun. Para peneliti ingin mengetahui bagaimana perilaku dan kesehatan mental para partisipan terkait ketidaksetiaan. 

"Kami tertarik para topik ini karena beberapa alasan. Pertama, kami tahu bahwa  pengkhianatan adalah hal yang paling menyedihkan dan merusak dalam seuatu hubungan," ujar pemimpin studi M. Rosie Shrout.



Ia melanjutkan, orang yang diselingkuhi mengalami emosional kuat dan tekanan psikologis karena hal tersebut.

Para peneliti ingin mengetahui apakah pengkhianatan dapat menimbulkan risiko perilaku yang membahayakan kesehatan, seperti seks tak aman, penggunaan obat-obatan terlarang dan alkohol, makan berlebih, atau justru sebaliknya. 

"Kami juga ingin mengetahui apakah perasaan bersalah ikut mempengaruhi tekanan psikologis, misalnya, apakah orang yang dikhianati akan menyalahkan pasangan mereka atau diri sendiri? Apakah hal tersebut akan membuat mereka melakukan perilaku berisiko?" tambahnya. 

(Baca juga: Studi: Selingkuh Cenderung Dilakukan Kembali)

Kesimpulannya, penilaian negatif (menyalahkan pasangan, menyalahkan diri sendiri, dan pengaitan kausal) memiliki efek tidak langsung terhadap perilaku berkompromi kesehatan, terutama kesehatan mental (depresi, kegelisahan, dan tertekan).

Studi tersebut juga menemukan bahwa menjadi korban pengkhianatan akan mempengaruhi perilaku, pandangan terhadap perselingkuhan, dan kepercayaan seseorang. 

Bahkan, untuk beberapa orang, pengalaman tersebut juga dapat membuat mereka cenderung mengalami perubahan gaya hidup seperti penggunaan alkohol atau obat-obatan terlarang, dan memiliki gangguan makan. 

"Dikhianati tak hanya memberi konsekuensi kesehatan mental, namun juga perilaku berisiko terutama pada mereka yang menyalahkan diri sendiri," simpul Shrout. 

Meski tak yakin, alasan Shrout mengungkapkan bahwa kemungkinan penyebabnya adalah rasa harga diri yang rusak, hambatan yang lebih rendah terhadap perilaku berisiko, atau pembalasan terhadap pasangan selingkuh.

Selain itu, perbedaan jenis kelamin juga berpengaruh dimana wanita lebih mungkin mengalami tekanan setelah diselingkuhi. 

"Mungkin karena wanita biasanya lebih mementingkan hubungan sebagai sumber jati diri dan identitas sehingga saat dikhianati mereka cenderung memiliki kesehatan mental yang lebih rendah dan terlibat dalam hubungan berisiko," katanya. 








(TIN)