Ini Alasan Mengapa Wanita Lebih Mudah Terkena Autoimun

Sri Yanti Nainggolan    •    Jumat, 08 Jun 2018 12:00 WIB
kesehatan
Ini Alasan Mengapa Wanita Lebih Mudah Terkena Autoimun
Penyakit autoimun adalah gangguan dimana sistem kekebaalan menciptakan antibodi yang melawan jaringan tubuh itu sendiri. (Foto: Marius Held/Unsplash.com)

Jakarta: Sebuah studi menemukan bahwa kurangnya testosteron, hormon seks pada pria, merupakan penyebab mengapa wanita cenderung lebih sering mengalami penyakit autoimun. 

Penyakit autoimun adalah gangguan dimana sistem kekebaalan menciptakan antibodi yang melawan jaringan tubuh itu sendiri. Beberapa diantaranya adalah multiple sclerosis (MS), penyakit celiac, lupus, dan rheumatoid arthritis.

Pria cenderung lebih terlindungi dibandingkan wanita, yang hanya memiliki sepersepuluh hormon testosteron. 

Testosteron merupakan kunci untuk mengurangi sel B, sejenis limfosit yang melepaskan antibodi berbahaya.

"Sangat penting untuk memahami apa yang menyebabkan penyakit ini menjadi lebih umum di antara wanita," kata Asa Tivesten, Profesor di Universitas Sahlgrenska Academy di Gothenburg.


(Sebuah studi menemukan bahwa kurangnya testosteron, hormon seks pada pria, merupakan penyebab mengapa wanita cenderung lebih sering mengalami penyakit autoimun. Foto: Thirteen .J/Unsplash.com)

(Baca juga: Beragam Jenis Penyakit Autoimun yang Perlu Kamu Tahu)

"Dengan cara ini, kita akhirnya bisa memberikan pengobatan yang lebih baik untuk penyakit," tambah Tivesten, dalam sebuah makalah yang diterbitkan di Nature Communications.

Setelah banyak percobaan pada tikus dan penelitian sampel darah dari 128 pria, para peneliti menemukan adanya protein BAFF, yang membuat jumlah sel B lebih layak. Mereka menyimpulkan, testosteron dapat menekan BAFF. 

"Jika Anda menghilangkan testosteron, Anda mendapatkan lebih banyak BAFF dan dengan demikian lebih banyak sel B di limpa karena sel tersebut dapat bertahan hingga tingkat yang lebih besar," kata Tivesten.

Hasilnya berkorelasi baik dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa variasi genetik dalam BAFF dapat dikaitkan dengan risiko penyakit seperti lupus.





(TIN)