Waspada, Hipertensi Pengaruhi Kerusakan pada Otak

Anindya Legia Putri    •    Kamis, 21 Dec 2017 14:05 WIB
demensiahipertensi
Waspada, Hipertensi Pengaruhi Kerusakan pada Otak
Ada kabar baik beberapa penelitian menyarankan pengobatan hipertensi yang tepat dapat mengurangi risiko demensia sebanyak 50 persen. (Foto: Pixabay.com)

Jakarta: Secara umum orang mengetahui bahwa tekanan darah tinggi erat kaitannya dengan risiko serangan jantung. Dilansir dari Huffingtonpost.com disebutkan ternyata darah tinggi pun dapat menyebabkan kerusakan pada otak. Hal ini bisa berakibat fatal, seperti stroke, gangguan kognitif, hingga demensia atau pikun.

Hipertensi merupakan istilah klinis untuk tekanan darah tinggi. Merupakan penyakit yang menghasilkan jumlah tekanan arteri di atas rata-rata. "Seiring waktu, tekanan ini merusak pembuluh darah. Karenanya hipertensi sangat berbahaya bagi otak," begitu sebut tulisan "Worried About Your Brain? Check Your Blood Pressure" ini.

Arteri membawa oksigen dan glukosa vital ke otak kita. Dan karena otak adalah salah satu organ vital pada manusia, dengan berat hanya dua persen dari berat tubuh kita namun menyerap 20 persen oksigen dan kalori yang ada, masalah kecil pada pembuluh darah dan aliran darah dapat membuat konsekuensi besar.

Periset mencatat bahwa jaringan otak yang kehilangan oksigen dan glukosa akibat suplai darah yang terganggu kemungkinan akan mengalami kerusakan sementara atau permanen. Dokter bisa melihat kerusakan otak pada pemindaian MRI. Hasil scan dapat mengungkapkan goresan kecil dan "hyperintensitas" di dalam bagian putih otak yang mengindikasikan penyakit pembuluh darah kecil serebral.


(Ada kabar baik beberapa penelitian menyarankan pengobatan hipertensi yang tepat dapat mengurangi risiko demensia sebanyak 50 persen. Foto: Pixabay.com)

(Baca juga: Kenali 10 Tanda Demensia)

"Kerusakan pada materi putih ini dapat menyebabkan kerusakan kognitif vaskular dan demensia vaskular, yang merupakan bentuk demensia kedua yang paling umum. Hipertensi juga dikenal sebagai faktor risiko penyakit Alzheimer," sebut tulisan Howard Fillit, MD, seorang kontributor yang sekaligus juga sebagai Geriatrician, neuroscientist, dan Founding Executive Director serta Chief Science Officer of the Alzheimer’s Drug Discovery Foundation.

Tapi ada kabar baik beberapa penelitian menyarankan pengobatan hipertensi yang tepat dapat mengurangi risiko demensia sebanyak 50 persen. Dan beberapa uji klinis sedang mempelajari apakah obat antihipertensi mungkin bermanfaat untuk pencegahan dan pengobatan demensia.

Di Sunnybrook Research Institute di Toronto, Dr. Sandra Black membandingkan dua kelas obat antihipertensi yang populer untuk melihat mana yang lebih melindungi otak dari kerusakan vaskular.

Dengan menggunakan data yang tersedia, dia telah menemukan bahwa penghambat reseptor angiotensin mengurangi risiko demensia secara signifikan lebih banyak daripada penghambat angiotensin-converting enzyme (ACE).










(TIN)