Sindrom Kelelahan Kronis Bukan Sekedar Masalah Mental, Melainkan Pencernaan

Sri Yanti Nainggolan    •    Minggu, 05 Nov 2017 08:15 WIB
kesehatan pencernaan
Sindrom Kelelahan Kronis Bukan Sekedar Masalah Mental, Melainkan Pencernaan
Lebih dari satu juta orang Amerika Serikat menglamai sindrom kelelahan kronis, kondisi dimana tubuh tetap merasa lelah meskipun telah berisitirahat. (Foto: Abbie Bernet/Unsplash.com)

Metrotvnews.com, Jakarta: Lebih dari satu juta orang Amerika Serikat menglamai sindrom kelelahan kronis, kondisi dimana tubuh tetap merasa lelah meskipun telah berisitirahat. Selain sulit didiagnosis, gangguan tersebut umumnya dialami wanita yang menginjak usia 40-an. 

Banyak asumsi bahwa gangguan tersebut tergolong dalam masalah mental. Namun sebuah studi baru menemukan adanya hubungan antara sindrom kelelahan kronis dengan bakteri usus mikrobiom. 

Studi yang dilakukan oleh Cornell University tersebut mengidentifikasi penanda biologis sindrom kelelahan kronis pada bakteri usus dan agen mikroba inflamasi dalam darah. Para peneliti tersebut menemukan adanya sindrom kelelahan kronis pada 83 pasien melalui tes tinja dan darah. Cara non-invasif tersebut berguna untuk mendiagnosis dan memahami penyakit tersebut ke depannya. 



(Baca juga: 3 Makanan yang Buruk untuk Pencernaan Anda)

"Penelitian kami mendemonstrasikan bahwa mikrobiom bakteri usus pada pasien sindrom kelelahan kronis tidak normal, sehingga kemungkinan menyebabkan gejala gastrointestinal dan inflamasi pada korban penyakit ini," kata penulis senior dan profesor Cornell, Maureen Hanson kepada ScienceDaily.

"Selanjutnya, deteksi yang menunjukkan adanya kelainan biologis memberikan bukti lebih lanjut terhadap konsep konyol bahwa penyakit ini berasal dari psikologis."

Ludovic Giloteaux, seorang peneliti dan penulis pertama studi tersebut, mengatakan bahwa penelitian tersebut dapat mempengaruhi dokter untuk menggunakan pola makan, prebiotik, atau probiotik yang berbeda untuk membantu mengobati penyakit tersebut. 

Meskipun penelitian tersebut menjanjikan, para peneliti tak yakin apakah bakteri usus yang berubah tersebut merupakan penyebab atau hanya gejala sindrom kelelahan kronis. Selanjutnya, mereka berencana untuk mempelajari virus dan jamur usus untuk melihat apakah ada juga korelasi antara penyakit ini dan penyakitnya.











(TIN)