Studi: Rata-rata Orang Tua dan Anak Beradu Argumen Enam Kali Sehari

Sri Yanti Nainggolan    •    Sabtu, 28 Jul 2018 22:06 WIB
keluarga
Studi: Rata-rata Orang Tua dan Anak Beradu Argumen Enam Kali Sehari
Studi: Rata-rata Orang Tua dan Anak Beradu Argumen Enam Kali Sehari (Foto: istock)

Jakarta: Sebuah studi menyimpulkan bahwa para orang tua memiliki lebih dari 2.100 argumen yang diperdebatkan dengan anak setiap tahun.

Para peneliti menyurvei 2.000 orang tua dengan anak berusia 2-12 tahun dan menemukan bahwa kebanyakan percekcokan adalah tentang apa yang ingin anak lakukan, makan, atau minum dalam keseharian.

Hasilnya, rata-rata terjadi berda pendapat enam kali dalam sehari, dengan total 42 kali seminggu atau 182 kali sebulan.

Anak yang tidak menghabiskan makanan adalah penyebab paling umum terjadi pertengkaran, diikuti dengan kamar yang tak rapi.

Komplain anak yang lapar namun menolak makanan sehat juga masuk dalam daftar teratas.

Namun, orang tua cenderung hanya memenangkan setengah dari bahasan pemicu argumen, dimana 6 dari 10 orang tua mengaku mengakhiri percakapan supaya kondisi rumah tetap damai.

"Banyak orang tua percaya bahwa mencapai kompromi dengan anak-anak mereka adalah cara terbaik untuk membuat semua orang bahagia," kata juru bicara Capri-Sun, yang menugaskan penelitian.

"Dengan mayoritas baris rumah tangga adalah tentang makanan dan minuman, para ibu dan ayah memiliki tugas rumit untuk menyelesaikan perkelahian sambil tetap berada di atas angin."

Anak-anak menyelipkan permen dan coklat sebelum makan, menunda waktu tidur dan mencoba membuat mereka tenang saat mengerjakan pekerjaan rumah (PR) adalah ketidaksepakatan umum lainnya. Sementara penggunaan gawai dan menyikat gigi juga topik yang paling sering menyebabkan adu argumen.

Rata-rata adu argumen terjadi selama delapan menit.

Para ibu dan ayah dapat berharap menghabiskan 16 menit sehari untuk bernegosiasi dengan anak-anak mereka, dengan hampir setengah membuat kesepakatan untuk membuat mereka makan dan minum apa yang mereka inginkan.

Hampir 9 dari 10 menawarkan hadiah kepada anak-anak mereka sebagai imbalan untuk melakukan apa yang diminta dengan tambahan waktu pada gawai mereka (22 persen), bagan hadiah (26 persen) atau uang saku (23 persen).

Selain itu, 45 persen orang tua mengancam akan mengurangi waktu bermain gawai sebagai hukuman.

 


(ELG)