Menelaah Peran Orang Tua dalam Pengembangan Karakter Anak

M Studio    •    Kamis, 28 Sep 2017 17:05 WIB
tumbuh kembang anak
Menelaah Peran Orang Tua dalam Pengembangan Karakter Anak
Orang tua memiliki peran penting dalam pembentukan karakter anak sejak dini (Foto:Dok.BPK PENABUR Jakarta)

Metrotvnews.com, Jakarta: Dalam membentuk karakter seseorang, peran keluarga sangat dibutuhkan. Jika berbicara  mengenai pembentukan karakter anak, maka peran orang tua sangat penting.

Karakter seseorang adalah segenap watak, perilaku, tabiat, sekaligus juga pikiran dan budi pekerti orang tersebut.

Pada tulisan kali ini, kita diajak menelaah peran orang tua dalam pengembangan karakter anak dari sudut pandang orang tua. Dia adalah Robert A Simanjuntak, orang tua Nathania Emily – PENABUR Secondary Tanjung Duren. Ikuti penuturannya, berikut ini.

Saya adalah ayah dari dua orang anak yang sudah menginjak usia remaja. Sebagaimana orang tua lain, saya dan istri  ingin agar anak-anak memiliki karakter yang baik. Kemudian karena kami memegang iman Kristen, kami juga tentunya ingin nilai-nilai Kristen mewarnai perilaku mereka.

Karena kami yakin bahwa peran orang tua sangat besar dalam pembentukan karakter anak, maka kami berupaya menjalankan peran tersebut sebaik-baiknya. Hal krusial yang kami lakukan adalah menyediakan waktu untuk anak seoptimal mungkin. Barangkali kedengarannya klise, namun kami percaya bahwa tanpa interaksi yang cukup dengan anak, maka akan sangat sulit bagi orang tua untuk bisa membantu mengembangkan karakter mereka. Kami sering mendengar istilah “waktu yang berkualitas”. Artinya, walaupun interaksi dengan anak tidak lama,  yang lebih penting ialah kualitas dari interaksi tersebut.

Barangkali pandangan ini benar, namun kami lebih meyakini bahwa menyediakan waktu yang lebih lama untuk anak tentu akan lebih baik bagi pengembangan karakter anak tersebut. Itulah sebabnya sejak kelahiran anak pertama (Nathania), istri saya dengan kesadarannya sendiri memutuskan untuk berhenti bekerja. Tentu saya sangat mendukung keputusannya.

Dengan menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya, maka istri bisa berkonsentrasi untuk membesarkan kedua anak kami. Praktis dalam segala hal, mulai dari misalnya memilih merek susu anak yang berkualitas sampai kepada memilihkan sekolah mereka, istri saya menjalankan peran utama. Tentu saja sebelum memutuskan, sebagian telah didiskusikan terlebih dahulu dengan saya. Bisa dikatakan selama tujuh hari dalam seminggu waktu istri saya terkait dengan urusan keluarga, terutama anak-anak.

Karena saya harus bekerja, tentu saya tidak bisa menyediakan waktu untuk anak-anak sebanyak istri saya. Namun demikian, setiap hari saya mengupayakan untuk bisa berinteraksi dan berbincang dengan anak-anak. Misalnya saat sarapan pagi, sebelum saya pergi bekerja dan anak-anak ke sekolah. Demikian juga saat makan malam. Barangkali istilah berusaha menciptakan “waktu yang berkualitas” dalam interaksi dengan anak lebih tepat dikenakan kepada saya, terutama di hari-hari kerja.

Waktu yang relatif pasti buat saya untuk bisa bersama keluarga adalah saat akhir minggu. Sejak anak-anak masih di taman kanak-kanak, saya dan istri sering mengajak mereka untuk makan di luar dan sesekali juga menonton film di bioskop. Kemudian ketika mereka sudah di sekolah dasar, setiap tahunnya kami berupaya untuk bisa pergi liburan keluarga ke luar kota atau bahkan ke luar negeri. Puji Tuhan, berkat Tuhan yang tidak putus memampukan kami untuk melakukan hal-hal tersebut. Kecuali ada urusan yang sangat penting /mendesak atau saya harus ke luar kota/ke luar negeri, maka saya berkomitmen agar setiap harinya bisa bersama dengan keluarga.

Jadi kata kunci di sini adalah waktu berinteraksi dengan anak-anak. Karena dalam interaksi tersebutlah kami bisa membantu mengarahkan perkembangan dan pertumbuhan anak-anak kami ke arah yang kami inginkan. Semakin lama waktu yang digunakan, semakin intensif hubungan orang tua dengan anak-anak. Dalam interaksi tersebut kami, terutama istri, selalu mengajak anak-anak untuk berdialog membicarakan berbagai hal. Seingat saya ini kami lakukan sejak mereka mulai masuk taman kanak-kanak, di usia mereka yang relatif masih sangat dini.


    
Saat berbincang dengan anak-anak itulah kami bisa menyisipkan pesan atau nasihat yang mengandung nilai-nilai yang ingin kami tanamkan. Misalnya, agar kalau mereka makan itu dihabiskan supaya tidak ada sisa yang terbuang. Atau, tidak boleh membuang sampah di sembarang tempat. Juga, harus bersikap hormat dan sopan kepada orang tua dan orang yang jauh lebih tua. Dan lain-lain.
    
Namun kami juga menyadari bahwa nasihat tidak akan banyak berhasil kalau hanya berupa larangan atau anjuran tanpa ada contoh. Jadi, kami pun berupaya menunjukkan kepada anak-anak sejak mereka batita bahwa kami melakukan juga apa yang kami tuntut dari mereka. Misalnya, kami makan sayur banyak-banyak saat makan bersama. Kami memerlakukan asisten rumah tangga kami se manusiawi mungkin dengan kata-kata yang terukur di depan anak-anak. Kami menaruh sendiri sepatu atau sandal kami ke rak sepatu saat kembali ke rumah setelah bepergian. Dan banyak contoh lainnya. Puji Tuhan, dengan cara-cara seperti itu karakter anak-anak sudah mulai terbentuk dengan baik.
    
Salah satu nilai yang kami terus upayakan bisa tertanam dalam diri anak-anak kami adalah bahwa mereka harus berjuang untuk memperoleh sesuatu. No pain no gain. Sejak dini kami berusaha mengajarkan hal ini kepada mereka. Dalam kaitan dengan itu, mereka juga harus “menghargai uang” karena tidak mudah untuk memperolehnya.
    
Saya kerap kali menceritakan kepada anak-anak bahwa sejak umur 21 tahun saya sudah harus mencari uang sendiri untuk membiayai kuliah, sebab ayah saya (kakek mereka) sudah tidak sanggup lagi bekerja saat itu. Saya ceritakan bahwa sampai menuntaskan pendidikan Strata-3, semua lewat upaya dan kerja keras saya untuk mencari bea siswa dan pembiayaan sendiri. Jika mereka ingin sekolah ke luar negeri—mereka sering sampaikan ini kepada kami--maka mereka harus sanggup berbuat serupa. Saya sampaikan bahwa kami mungkin hanya akan membiayai mereka sampai Strata-1. Saat ini Nathania baru kelas 2 SMU, sedangkan adiknya (Christopher) kelas 2 SMP.


    
Semua upaya dalam rangka membentuk karakter anak-anak kami tersebut tentunya bukan tanpa hambatan. Namun hambatan dan tantangan yang lebih berat nampaknya mulai hadir dewasa ini, saat mereka memasuki usia remaja. Mengapa? Bukan hanya karena mereka mulai masuk usia pubertas, tetapi karena kami juga sejak SMP mengijinkan mereka memiliki telpon genggam dan mereka boleh berselancar di internet.

Walaupun kami mencoba menerapkan berbagai aturan, namun kami menyadari bahwa dengan pergaulan mereka yang makin luas di dunia remaja, ada hal-hal yang mungkin di luar kontrol kami. Kami juga menyadari dan melihat bahwa banyak pengetahuan, yang sebagian belum tentu baik, yang bisa mereka peroleh dari pergaulan dan dari bacaan di internet. Itu kami rasakan sejak beberapa tahun terakhir ini di mana mereka tidak lagi sama penurutnya seperti saat di SD, dan mulai banyak “membantah”. Mereka juga mulai merasa lebih tahu akan beberapa hal.
    
Namun kami bersyukur bahwa sejak TK mereka kami masukkan ke sekolah Kristen yang baik. Salah satu tujuannya adalah agar pendidikan dan nilai-nilai yang diberikan sekolah bisa membantu menutupi kekurangan yang kami miliki. Dan hal itu semakin terasa pentingnya saat ini, di mana mereka praktis berada di sekolah dari pagi sampai sore hari.
    
Last but not least, kami selalu menyempatkan untuk berdoa bersama, sebelum makan, tidur, ke sekolah atau bekerja, dan aktivitas lainnya. Ini merupakan pembelajaran kepada mereka bahwa kita selalu harus bersandarkan kepada Tuhan, di samping juga untuk menguatkan kami dalam mendidik mereka untuk berkembang menjadi pribadi-pribadi Kristen yang tangguh nantinya.


-------------

Dikutip dari buku "Kataku, Kata Orangtuaku: 67 Kisah Pengalaman Anak dan Orangtua tentang Pendidikan Karakter BPK PENABUR Jakarta."


(ROS)