Mengapa Terbiasa Mengulang Ajaran Orang Tua pada Anaknya?

Sri Yanti Nainggolan    •    Kamis, 24 May 2018 07:29 WIB
keluargapsikologi
Mengapa Terbiasa Mengulang Ajaran Orang Tua pada Anaknya?
Semakin banyak hal yang berulang, semakin sedikit energi yang dibutuhkan untuk membuat koneksi penting itu, di mana proses pembelajaran akan lebih mudah. (Foto: London Scout/Unsplash.com)

Jakarta: Tak sedikit orang yang menegur atau menasihati anak mereka dengan perkataan yang didapat dari orang tua. Perkataan tersebut seakan tertanam di kepala dan tak bisa lepas. 

“Kita terus menerus mengulang perkataan tersebut saat menjadi orang tua, terlepas dari apakah itu menanamkan kebijaksanaan atau tidak,” kata Zelana Montminy, PhD, seorang psikolog yang berbasis di Los Angeles dan penulis 21 Days to Resilience. 

“Memikirkan tentang apa yang didengar anak-anak kita dan disengaja tentang apa yang kita katakan kepada mereka adalah kunci untuk membentuk siapa mereka nantinya.”

Ia melanjutkan, setiap orang tua ingin agar nasihatnya tertanam di kepala anak-anaknya membantu melindungi dan mendorong mereka serta mengingatkan mereka untuk melakukan hal yang benar ketika sedang tak berada dekat mereka. Salah satunya adalah dengan pengulangan nasihat yang kemudian menjadi motto sepanjang waktu.  

“Kata-kata yang dengan terus menerus saat kecil menjadi suara internal kami saat dewasa,” kata Suzi Lula, seorang ahli pengasuhan.

(Baca juga: Studi: Ibu yang Berpikiran Terbuka Membuat Anak Lebih Kreatif)


(Pengulangan mempercepat cara belajar. Jadi ketika kita mengatakan sesuatu lagi dan lagi pada anak-anak kita, mereka akan lebih cepat menyerapnya. Foto: NeONBRAND/Unsplash.com)
 
"Mereka menegaskan kembali nilai-nilai keluarga dan berfungsi sebagai kompas nyata untuk anak-anak saat mereka semakin tua. Anda melakukan pelayanan besar pada anak-anak dengan mengatakan hal-hal itu sekarang."

Pengulangan mempercepat cara belajar. Jadi ketika kita mengatakan sesuatu lagi dan lagi pada anak-anak kita, mereka akan lebih cepat menyerapnya. 

"Ada koneksi saraf yang terbentuk di otak ketika kita belajar sesuatu yang baru," kata Montminy, yang memelajari efek psikologi positif pada otak.

Semakin banyak hal yang berulang, semakin sedikit energi yang dibutuhkan untuk membuat koneksi penting itu, di mana proses pembelajaran akan lebih mudah.

"Akhirnya, hal-hal yang kita katakan kepada anak-anak menjadi sifat kedua bagi mereka,” kata Lula. Faktanya, ketika anak-anak terlihat acuh, sebenarnya mereka mendengarkan. "Mereka akan lebih mudah menyontoh jika Anda juga memberikan contoh nyata juga bagi mereka."





(TIN)