Membangun Rumah yang tak Sekadar Bangunan Fisik

   •    Senin, 13 Nov 2017 11:44 WIB
keluarga
Membangun Rumah yang tak Sekadar Bangunan Fisik
Ilustrasi. (Metrotvnews.com)

Jakarta: Apa yang Anda pikirkan ketika mendengar kata rumah. Mungkin sebagian besar orang akan menjawab bangunan fisik yang ditinggali oleh sebuah keluarga.

Namun, tahukah Anda bahwa rumah tak hanya sekadar bangunan secara fisik. Rumah bisa dikatakan sebagai 'rumah' jika di dalamnya terdapat keluarga yang berfungsi baik dan saling mengisi.

"Makanya Saya membagi ada istilah house dan home. House itu bangunan fisik sedangkan home interaksi di dalamnya terjadi," kata Motivator Jamil Azzaini dalam I'm Possible, Minggu 12 November 2017.

Jamil mengungkapkan bahwa rumah yang berfungsi dengan baik bisa membuat kualitas hidup seseorang juga baik. Setidaknya kualitas itu ditentukan oleh dua hal; kualitas di tempat bekerja dan kualitas ketika berada di rumah.

Kadang, rumah yang tampak mewah dari luar dan sedap dipandang mata tidak menjamin bahwa fungsi di dalamnya berjalan dengan baik. Bisa jadi di balik rumah mewah tersebut tidak ada kehangatan di dalamnya.

Padahal menurut Jamil, tak sulit mewujudkan rumah yang tidak hanya sekadar bangunan fisik. Setidaknya ada 3P yang bisa dilakukan untuk mewujudkan fungsi rumah yang sebenarnya.

Pertama, plan together. Plan together berkaitan dengan perencanaan yang dibuat oleh keluarga misalnya apa menu masakan hari ini bisa saling didiskusikan atau diminta pendapat dengan anggota keluarga lain.

Kedua, play together. Menyempatkan diri untuk terlibat dalam aktivitas ringan di dalam rumah. Misalnya bermain dengan anak-anak atau menciptakan suasana kehangatan dengan bercengkrama dengan anggota keluarga.

"Tidak lupa pray together, berdoa bersama. Kalau 3 P itu terjadi semua, bisnis anda lancar, pekerjaan lancar, kualitas hidup Anda juga naik," ujar Jamil.

Meski umumnya sebuah rumah didiami oleh satu keluarga yang terdiri dari pasangan suami istri beserta anak-anak, ada banyak rumah lain yang justru tidak demikian. Misalnya ketiadaan pemimpin rumah tangga yang membuat seseorang menjadi orang tua tunggal.

Jamin mengatakan hal tersebut tak menjadi masalah, anggota keluarga yang tersisa bisa menghidupkan kembali suasana rumah yang hangat meskipun tak lengkap.

Caranya, biarkan orang tua melakukan tugas utamanya seperti bekerja untuk menghidupi anggota keluarga lain sementara anak tertua bisa mengambil peran untuk mengambil alih sisa tugasnya.

Kuncinya, kata Jamin, jangan jadikan tugas tersebut sebagai beban atau memilih dunia luar sebagai pelampiasan akan ketidakutuhan keluarga. Namun jadikan hal tersebut sebagai penyemangat bahwa keluarga tak utuh sekalipun bisa menghidupkan 'rumah' di dalamnya.

"Sibling leadership, yang tua menduduk yang lebih muda. Jangan menjadi beban kalau ingin memfungsikan rumah sebagai home," katanya.

Jamil mengatakan tidak sedikit orang yang justru tidak betah berada di rumahnya sendiri. Tentu ada berbagai alasan atas hal itu.

Namun menurut Dia, ketika salah satu atau beberapa anggota keluarga lebih menyukai tinggal di luar rumah, dia menjamin bahwa prinsip 3P yang seharusnya diterapkan tidak berjalan dengan baik.

Memilih dunia luar sebagai pelampiasan ketidakutuhan atau ketiadaan peran keluarga bukanlah solusi. Yang perlu dilakukan justru kembali ke rumah dan ciptakan kehangatan rumah itu sendiri.

"Yang bikin kita enggak betah di rumah itu apa yang menjadi kesenangan kita tidak ada. Makanya ciptakan rumah kita itu dengan sesuatu yang kita sukai, jangan kemudian hal-hal yang dibenci mendominasi yang membuat kita mencari rumah lain selain rumah kita sendiri," katanya.




(MEL)