Penilaian UNESCO Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sri Yanti Nainggolan    •    Rabu, 07 Sep 2016 09:11 WIB
pendidikan
Penilaian UNESCO Terhadap Pendidikan di Indonesia
(Foto: Dok.MI/Palce)

Metrotvnews.com, Jakarta: Laporan resmi Pemantauan Pendidikan Global (GEM) 2016 pada Indonesia menunjukkan peningkatan yang signifikan.

Data laporan GEM 2015 memperlihatkan angka partisipasi kasar Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) meningkat, dari 28 persen pada 2001 menjadi 70,06 persen pada 2015.

Sementara pada tahun ini, Direktorat Jenderal PAUD Kemendikbud dianugerahi penghargaan UNESCO untuk Pendidikan Anak Perempuan dan Perempuan edisi pertama atas keberhasilan program di bidang penyetaraan gender untuk anak usia dini.

"Angka partisipasi kasar SD dan SMP sejak tahun 2000 tetap di atas 100 persen, khususnya untuk daerah terpencil," jelas Dr. Ananto Kusuma Seta selaku Staff Ahli Menteri Kemendikbud dalam konfrensi pers Peluncuran Laporan Pemantauan Pendidikan Global (GEM) UNESCO 2016 di Gedung Kemendikbud, Selasa (6/9/2016).

Sementara itu, angka putus sekolah dasar menurun dari 2,62 persen pada tahun 2000 menjadi 0,26 persen pada 2015. Angka literasi usia 15-24 tahun juga mengalami peningkatan dari 98,7 persen ke 99,7 persen dalam kurun waktu satu dekade sejak 2005.

Meski demikian, untuk mencapai target GEM dimana anak-anak dunia untuk lulus sekolah menengah ke atas (SMA), Indonesia baru mencapai 76 persen. (Baca juga: Hardiknas & Ironi Pendidikan di Indonesia)

"Ini adalah pekerjaan rumah untuk kita semua. Salah satu target Nawa Cita yang disusun pemerintahan Pak Jokowi diarahkan untuk peningkatan di bidang ini, yaitu wajib belajar 12 tahun dan Program Indonesia Pintar," jelasnya.

Ia menambahkan, adanya komitmen untuk ikut memajukan daerah terpencil juga diaplikasikan dengan penyediaan jumlah guru di garis depan, terutama untuk mengajar di daerah-daerah pelosok.

Tambahan lain yang tengah diperjuangkan saat ini adalah masalah infrastruktur dan teknologi informasi (IT), yang juga menjadi sorotan UNESCO.

"Kemendikbud akan berkolaborasi dengan kementrian terkait untuk masalah infrastruktur," tanggapnya.

Sementara untuk IT, Dr. Ananto mengungkapkan bahwa kurikulum 2013 yang sedang dilaksanakan saat ini turut mendukung layanan pendididikan IT sehingga memudahkan koneksi dengan anak-anak yang berada di daerah terpencil, dimana IT dapat berperan sebagai alat yang memudahkan dalam hal mendapatkan pendidikan yang baik.

"Intinya, kami bertekad menjadikan sekolah di Indonesia sebagai sekolah abad 21," tutupnya.




(DEV)