Batik For The World

Pelangi Karismakristi    •    Minggu, 01 Jul 2018 19:00 WIB
galeriindonesiakaya
Batik For The World
Kain batik. (Foto: ANT/ M Agung Rajasa)

Jakarta: United Nation Educational, Scientific and Cultural Organisation (UNESCO) menetapkan batik sebagai warisan budaya Indonesia pada 2 Oktober 2009. 

Seiring berjalannya waktu, keberadaan batik makin naik daun. Bahkan di beberapa instansi mewajibkan karyawannya mengenakan batik pada hari tertentu. Tak hanya di Jawa Tengah saja, beberapa daerah di Indonesia juga memiliki ragam batik khas. 

Dalam dunia fesyen Tanah Air, tak sedikit desainer yang memanfaatkan kain batik untuk menciptakan karya. Kain tradisional ini juga turut mengantarkan tiga desainer Indonesia mengikuti peragaan busana bertajuk Batik For The World di Paris dengan dukungan UNESCO dan Bakti Budaya Djarum Foundation.

Salah satunya adalah Oscar Lawalata. Pada pagelaran fesyen show kali ini, ia mengusung gaya timeless yang sangat chic dan modern. Oscar menciptkan karyanya dengan sentuhan corak batik dari sejumlah daerah di Jawa Timur, seperti Sidoarjo, Tranggalek, Kediri, Gresik, Madura, dan Ponorogo.

Selanjutnya, ada koleksi dari Edward Hutabarat. Pria yang karib disapa Edo ini mengusung salah satu wisata favorit di Indonesia, yakni Labuan Bajo.

Tak ketinggalan, Denny Wirawan membawa delapan tampilan busana untuk evening wear bertema Wedari, atau taman bunga. Ini adalah motif asli dari Kudus yang pernah berjaya pada tahun 1920-1950.

Seperti apa keseruan peragaan busana Batik For The World yang berlangsung pada 6-12 Juni 2018, di kantor pusat UNESCO, Paris? Saksikan dalam program IDEnesia episode Batik For The World pada Minggu, 1 Juli 2018, pukul 21.30 hanya di Metro TV.



(ROS)