3 Langkah Mengajari Kedisiplinan Tanpa Membuat Anak Takut

Sri Yanti Nainggolan    •    Selasa, 03 Jul 2018 11:21 WIB
keluarga
3 Langkah Mengajari Kedisiplinan Tanpa Membuat Anak Takut
(Foto: Independent)

Jakarta: Tak sedikit orang tua yang bingung memilih pola terbaik dalam pengasuhan anak. Dua psikiater memberikan tiga langkah proses pendisiplinan yang bisa dipraktikkan untuk buah hati. 

Psikiater Heather Turgeon dan Julie Wright menjelaskan taktik bernama model ALP, yaitu penyesuaian diri (attune), memberikan pembatasan (limit set), dan penyelesaian masalah (problem solve). 

"Mempraktikkan ALP dalam momen sulit memberi jalan pada orang tua untuk memimpin dengan pemahaman dan kebaikan, secara konsisten memegang batasan yang jelas dan mengajarkan aturan dan membantu anak mereka membuat pilihan yang lebih baik atau menyelesaikan dilema mereka," kata mereka, dilansir dari Independent.

"Pengalaman dan penelitian kami selama puluhan tahun memberi tahu kita bahwa ketika orang tua sama-sama empati dan konsisten, anak-anak lebih cenderung untuk memasuki dan menumbuhkan bawaan mereka, rasa benar dan salah; daripada hanya melakukan hal yang benar karena takut atau ketika seseorang menonton."

Model ALP dapat digunakan untuk membantu orang tua dengan berbagai masalah dari kehancuran, sulit diajak kerja sama, resistensi tidur, konflik saudara kandung hingga argumen atas waktu menonton TV. 

Salah satu contoh situasi yang bisa digunakan adalah jika anak Anda menangis dan menolak meninggalkan tempat yang menyenangkan, seperti toko mainan.

Berikut bagaimana ALP dapat diterapkan dalam hal ini.

Attune

Sejajarkan tinggi badan dengan anak sambil melakukan kontak mata dengan mereka. Dengan nada yang baik, beri tahu mereka bahwa Anda mengerti mengapa mereka marah, misalnya, "Ibu mengerti, meninggalkan toko yang menyenangkan ini benar-benar sulit!"

Mengatur batasan

Tenang dalam menjelaskan situasinya, misalnya katakan, "Kita harus pergi sekarang. Sudah waktunya untuk menjemput kakakmu."

Pemecahan masalah

Cobalah memediasi situasi dengan menambahkan semacam kompromi yang akan memotivasi anak untuk berperilaku baik, Misalnya, "Kamu bisa memegang tanganku dan berjalan denganku sambil bernyanyi bersama. Kita akan menuju mobil dengan tenang." 

Yang paling penting adalah menunjukkan kepada anak bahwa Anda mencoba memahami apa yang salah, bahkan jika perilaku mereka tampaknya sepenuhnya tidak rasional, para penulis menambahkan.

"Seringkali alasan tersebut tampak konyol bagi kami tetapi bagi mereka, pada saat itu, adalah segalanya."

Menurut para penulis, komunikasi adalah bagaimana orang tua membanetuk ikatan dengan anak dan orang tua mengetahui pentingnya hubungan tersebut. 

"Tujuan jangka panjang dari semua orang tua adalah pada akhirnya anak dapat memberitahu bagaimana perasaan dan apa yang mereka inginkan melalui kata-kata. Semakin sulit perasaan itu, semakin mereka merasa aman membicarakannya dengan orang tua."

Menunjukkan kepada anak bahwa mereka telah didengar, didengarkan, dan dipahami adalah inti dari pendekatan penulis untuk mendisiplinkan.

"Empati itu menular dan keinginan manusia kita untuk itu pergi ke segala arah."





(DEV)