Sejarah Penggunaan Berlian pada Cincin Tunangan

Raka Lestari    •    Kamis, 23 Nov 2017 07:00 WIB
tips & trik
Sejarah Penggunaan Berlian pada Cincin Tunangan
Berlian pada cincin pertunangan mungkin tampak sebagai simbol kemewahan. (Foto: Shutterstock)

Jakarta: Berlian pada cincin pertunangan mungkin tampak sebagai simbol kemewahan. Namun, pemilihan berlian ternyata memiliki sejarah.

Pada awalnya, cincin yang dipakai hanyalah cincin emas biasa. Salah satu pertunangan yang menggunakan cincin pertunangan berlian pertama kali tercatat pada 1477. Archduke Maximilian dari Austria melamar kekasihnya Mary of Burgundy dengan sebuah cincin dengan potongan berlian tipis dan datar berbentuk "M."

Hal tersebut kemudian dianggap sebagai sesuatu yang glamour oleh bangsawan Eropa. Mereka pun mulai menambahkan permata yang untuk perhiasan mereka. Pada abad pertengahan juga mulai muncul dengan posey rings, cincin yang ditambah dengan ukiran puisi dan kata-kata romantis.

Lalu, semua berubah saat berlian ditemukan di Afrika Selatan. Pada 1880, Cecil Rhodes mendirikan DeBeers Mining Company bersama beberapa investor lainnya. Hanya dalam satu dekade, perusahaan tersebut telah menguasai 90 persen produksi berlian di dunia dan membuat strategi marketing mengenai cincin pertunangan bertahtakan berlian.

Setelah krisis keuangan global berakhir, agensi perusahaan iklan N.W.Ayer & Son meluncurkan slogan A diamond is forever  yang membuat para lelaki rela menghabiskan 2 bulan gajinya hanya untuk membeli batu antik tersebut. Hingga pada awal 1940-an cincin pertunangan menjadi perhiasan terpopuler di toko-toko perhiasan.

Sampai saat ini lebih dari 80 persen pasangan di Amerika yang akan menikah memilih cincin pertunangan yang bertahtakan berlian. Berdasarkan sebuah laporan dari Jewelers of America, pasangan menghabiskan rata-rata USD4 ribu untuk sebuah cincin pertunangan pada tahun 2012.




(DEV)