Mengapa Banyak Anak Menganggap Matematika Sulit?

Sri Yanti Nainggolan    •    Rabu, 05 Oct 2016 08:00 WIB
pendidikan anak
Mengapa Banyak Anak Menganggap Matematika Sulit?
Orangtua sebaiknya memberikan kesempatan dan dukungan pada anak dalam mengerjakan matematika. (Foto: News)

Metrotvnews.com, Jakarta: Bagi sebagian besar anak sekolah, pelajaran matemetika adalah momok besar. Mengapa bisa demikian?

Prof. Dr. rer. nat. Widodo, MS, Profesor Matematika dari Universitas Gadjah Mada menjelaskan bahwa ada tiga penyebab mengapa fenomena tersebut bisa terjadi.

"Berdasarkan survei dari Indonesia Mathematics Society tahun 2010, ada tiga penyebab yaitu buku, guru, dan siswa itu sendiri," tukasnya dalam Talk Show 21st Century Math Skills: Change The Focus From Calculation to Exploration, Selasa (4/10/2016).

Ia menerangkan, buku pelajaran matematika yang ada di Indonesia tidak banyak yang memiliki konteks dimana kebanyakan langsung masuk ke dalam pembahasan utama, seperti integral, yang sangat berbanding terbalik dengan buku pelajaran asal negeri Sakura sebagai salah satu pembandingnya. Hal tersebut membuat matematika semakin terlihat abstrak bagi siswa.

(Baca juga: Alasan Orang Tua Masukan Anak ke Sekolah Negeri Lewat Jalur Belakang)

Kedua, perihal guru. Survei tersebut juga menyebutkan bahwa hanya 11,35 persen guru yang memiliki kompetensi dan ketrampilan yang mumpuni dalam bidang matematika. Perkembangan inovasi yang terus terjadi akan membuat guru yang tak mau mengikuti perkembangan ilmu semakin kewalahan menghadapi berbagai pertanyaan, terutama dari siswa yang kreatif.

Sementara itu, dari sisi siswa, adanya tanggapan turun temurun dari orangtua yang mengatakan bahwa pelajaran matematika sulit membuat pola pikir ini menjadi melekat di pikiran.

"Oleh karena itu, anak perlu dimotivasi agar tidak merasa demikian," sarannya. Bentuk motivasi yang bisa dilakukan oleh guru adalah dengan membiarkan anak berhasil dalam mengerjakan soal matematika.

"Jika anak terus gagal dalam mengerjakannya, ia tak akan bersemangat lagi dalam mempelajari. Jadi kita harus memberi kesempatan pada anak," sarannya.






(TIN)