Orang Tua Pecandu Alkohol Bisa Jadi Penyebab Remaja Lakukan Kekerasan dalam Berpacaran

Sri Yanti Nainggolan    •    Rabu, 25 Oct 2017 06:00 WIB
kesehatan
Orang Tua Pecandu Alkohol Bisa Jadi Penyebab Remaja Lakukan Kekerasan dalam Berpacaran
(Foto: Maximum Media)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebuah studi menemukan bahwa tumbuh dengan orang tua yang gemar minum alkohol dapat meningkatkan risiko kekerasan dalam berpacaran saat anak beranjak dewasa.

Para peneliti dari University at Buffalo Research Institute on Addictions menyimpulkan bahwa akar dari kekerasan dalam berpacaran pada remaja dapat diidentifikasikan sedini mungkin, bahkan sejak bayi.

"Meskipun kekerasan dalam berpacaran pada remaja umumnya dilihat sebagai masalah yang berhubungan dengan perkembangan remaja, penemuan kami mengindikasikan bahwa risiko perilaku agresif dan keterlibatan dalam kekerasan berpacaran berhubungan dengan pengalaman tertekan saat usia lebih dini,"  ujar pemimpin studi Jennifer A. Livingston, PhD.

Livingston melibatkan 144 remaja yang sudah diikuti sejak berusia 12 bulan, dimana mereka semua memiliki ayah dengan gangguan penggunaan alkohol.

Setelah bertahun-tahun mengumpulkan data dan menganalisa secara rutin, ia melihat faktor apa saja yang membuat beberapa remaja terlibat kekerasan dalam hubungan berpacaran.

"Terlihat bahwa dinamika keluarga pada masa pra-sekolah dan pertengahan masa kanak-akan adalah krusial dalam perkembangan agresi dan kekerasan berpacaran pada masa remaja," tambah Livingston.

Namun, penyebabnya tak hanya terkait hubungan sang anak dengan ayah.

Livingston menemukan bahwa ibu yang memiliki pasangan dengan gangguan alkohol juga cenderung lebih depresi, sehingga membuat mereka kurang menunjukkan perhatian pada anak dan menjadi kurang hangat atau sensitif saat berinteraksi dengan sang anak.

"Hal ini penting karena anak dengan ibu yang hangat dan sensitif lebih baik dalam mengatur emosi dan perilaku mereka."

Selain itu, kecanduan alkohol juga meningkatkan konflik dalam rumah tangga.

Studi tersebut menyimpulkan bahwa tumbuh dalam kondisi tersebut dapat memengaruhi kontrol perilaku anak, dimana dapat mengarah pada perilaku agresif pada usia dini dan pertengahan masa kanak-kanak.

Padahal, anak yang memiliki sifat agresif, terutama pada saudara kandung, cenderung akan berperilaku serupa dengan pasangan mereka.

"Penelitian kami menemukan bahwa risiko kekerasan bisa dikurangi ketika orang tua menjadi lebih hangat dan sensitif saat berinteraksi saat anak-anak masih bawah lima tahun."

Ia menambahkan, hal tersebut juga dapat mengurangi konflik rumah tangga dan meningkatkan kontrol diri anak, terutama dalam perilaku agresif.




(DEV)