Bahaya Menikah dengan Modus Tertentu

Yatin Suleha    •    Kamis, 07 Sep 2017 16:12 WIB
keluargapsikologi
Bahaya Menikah dengan Modus Tertentu
Rasa sabar (dalam menghadapi berbagai masalah pernikahan) akan terbentuk jika pasangan menikah dengan kasih sayang yang tulus. (Foto: Alice Donovan/Unsplash.com)

Metrotvnews.com, Jakarta: Anda pernah mendengar tentang istilah "modus"? Modus di sini dapat diartikan seseorang tersebut mempunyai motif atau tujuan tertentu (terutama motif/modus atau keinginan tertentu terhadap pihak lain). 

Hal ini tentu saja kurang bijaksana mengingat pasti akan ada hal yang terkuak seiring berjalannya waktu, lebih jauh lagi dalam urusan pernikahan.



Psikolog anak, remaja, dan keluarga Efnie Indrianie, M.Psi dari Fakultas Psikologi, Universitas Kristen Maranatha, Bandung mengatakan bahwa rasa sabar (dalam menghadapi berbagai masalah pernikahan) akan terbentuk jika mereka menikah dengan kasih sayang yang tulus. 

"Yang mengikat tali pernikahan secara psikologis adalah rasa kasih sayang. Jika hal ini dirasakan oleh kedua pasangan, mereka akan bersabar tanpa mengenal waktu. Meskipun berat, terjadinya miskomunikasi akan coba diselesaikan melalui proses yang panjang. Jika menikah karena faktor lain seperti materi, jabatan, atau fisik maka sabar akan dilakukan secara berbatas," ucap psikolog yang ramah ini.

(Baca juga: Studi: Lebih Cantik Cenderung Mudah Gagal dalam Hubungan)

Namun ia mengatakan bahwa langgeng bisa saja terjadi-dalam perkawinan tersebut, "jika memang yang menjadi alasan untuk menikah itu masih selalu ada dan ia dapatkan. Jika memang selama pernikahan berjalan tidak ada pembelajaran tentang ketulusan dan kasih sayang, seiring sirnanya alasan tadi, maka kecenderungan untuk mempertahankan pernikahan akan semakin berkurang," tambahnya lagi.



Munculnya hal negatif
Hal tersebut jika terus terjadi menurut Efnie bisa menimbulkan beberapa hal. "Ada beberapa yang mulai mengevaluasi pernikahan dengan negatif, mencari orang lain (PIL/WIL), atau semakin sering munculnya pertengkaran. Keluhan-keluhan akan semakin sering diungkapkan antara satu dengan yang lain," ucap Efnie.

"Mereka akan damai selama faktor yang membuat mereka menikah terus ada. Namun, jika hal tersebut berkurang atau barangkali hilang muncullah keluhan dan berujung pada ketidakpuasan. Ini dapat membuat kesejahteraan psikologis kita terganggu," tutup Efnie.











(TIN)